Rabu, 17 April 2013

ABU THALIB MATI DALAM KEADAAN KAFIR


Pada Jum'at yang lalu, tanggal 12 April 2013, seorang khatib dengan semangat yang menggebu-gebu menguraikan jenis-jenis kekufuran dalam khutbahnya. Namun ada satu perkataan khatib yang membuat hati ini merasa gundah, apa pasalnya? Sang khatib mengatakan  bahwa Abu Thalib (paman Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam) termasuk yang mati dalam kekafiran, tidak sempat mengucapkan syahadat. Namun tidak sampai disitu ucapannya.

Setelah kematiannya, Rasulullah  menziarahi kuburnya, Nabi memohon kepada Allah agar dibukakan kuburnya Abu Thalib, maka terbukalah kubur tersebut, lalu muncullah Abu Thalib yang setelah itu  dapat mengucapkan dua kalimah Syahadat, Asyhadu anlaa ilaaha illallaah wa asyhadu anna muhammadan Rasulullaah. 
 
Perkataan yang sungguh sangat aneh bukan?
 
Sungguh perkataan khatib ini membuat hati penulis kaget, sungguh berani sang khatib ini mengungkapkan suatu perkataan yang berbahaya bagi umat ini. Karena perkataan sang khatib ini adalah suatu pembenaran bahwa Abu Thalib masuk Islam, walaupun setelah kematiannya.
 
Kematian Abu Thalib sudah sangat jelas, dia mati dalam keadaan kafir dan ini merupakan keyakinan Ahlussunnah. Fakta berupa dalil-dalil al Qur'an dan As-Sunnah telah menyebutkan: 
 
“Dari Sa’id bin Musayyab, dari bapaknya (Musayyab bin Hazn), dia berkata: Tatkala (tanda) kematian datang kepada Abu Thalib, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatanginya. Beliau mendapati Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah bin Mughirah berada di dekatnya. Lalu beliau berkata: “Wahai pamanku, katakanlah Laa ilaaha illa Allah, sebuah kalimat yang aku akan berhujjah untukmu dengannya di sisi Allah!” Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah menimpali,”Apakah engkau akan meninggalkan agama Abdul Muththalib?” Rasulullah  terus-menerus menawarkan itu kepadanya, dan keduanya juga mengulangi perkataan tersebut. Sehingga akhir perkataan yang diucapkan Abi Thalib kepada mereka, bahwa dia berada di atas agama Abdul Muththalib. Dia enggan mengatakan Laa ilaaha illa Allah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,”Demi Allah, aku akan memohonkan ampun untukmu selama aku tidak dilarang darimu,” maka Allah menurunkan (ayat-Nya) “Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik” –QS at Taubat/9 ayat 113- Dan Allah menurunkan (ayat-Nya) tentang Abu Thalib “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya”. –QS al Qashash/28 ayat 56″. [HR. Al Bukhari, no. 4772; Muslim, no. 24]
 
Dalam riwayat Imam Muslim disebutkan, waktu itu Abu Thalib menjawab dengan perkataan:
 
“Seandainya suku Quraisy tidak akan mencelaku, yaitu mereka akan mengatakan: “Sesungguhnya yang mendorongnya (Abu Thalib) mengatakan itu hanyalah kegelisahan (menghadapi kematian),” sungguh aku telah menyenangkanmu dengan kalimat itu”. [Hadits shahih riwayat Muslim, no. 25].
 
Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh berkata:
Dan di antara hikmah ar Rabb (Sang Penguasa, Allah) Ta’ala tidak memberi petunjuk kepada Abu Thalib menuju agama Islam, agar Dia menjelaskan kepada hamba-hamba-Nya bahwa (petunjuk menuju Isalm) itu hanya hak Allah, Dia-lah Yang Berkuasa, siapa saja selain-Nya tidak berkuasa. Jika Nabi -yang merupakan makhluk-Nya yang paling utama- memiliki sesuatu (hak, kekuasaan) memberi hidayah hati, menghilangkan kesusahan-kesusahan, mengampuni dosa-dosa, menyelamatkan dari siksa, dan semacamnya, maka manusia yang paling berhak dan paling utama mendapatkannya adalah pamannya, yang dahulu melindunginya, menolongnya, dan membelanya. Maka Maha Suci (Allah) yang hikmah-Nya mengagumkan akal-akal (manusia), dan telah membimbing hamba-hambaNya menuju apa yang menunjukkan kepada mereka terhadap ma’rifah (pengenalan) dan tauhid (pengesaan) kepada-Nya, dan mengikhlas-akan serta memurnikan seluruh amal hanya untuk-Nya”.
        [Fathul Majid, Penerbit Dar Ibni Hazm, hlm. 191-192.]
 
 
 
Sumber:
 
Majalah As-Sunnah Edisi 05/Tahun X/1427H/2006M
 
 
______________
Jakarta al Gharbiyyah, 06/06/1434 H ---- 17 April 2013 M. Pkl. 14.14 WIB. 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Senin, 15 April 2013

CARA PERPANJANG STNK PLUS GANTI PLAT NOMOR


Bismillaah, di bawah ini dijelaskan cara termudah memperpanjang STNK sekaligus ganti plat motor. Caranya amat mudah tidaklah seperti yang orang gambarkan, sulit dan berbelit-belit, padahal sungguh sangat mudah.

Berikut tips dan caranya:

1. Datangi kantor Samsat yang terletak di jalan Daan Mogot Cengkareng Jakarta Barat.
 
2. Setelah masuk gerbang kantor samsat, motor jalan lurus lalu belok kiri, posisi ada di sebelah kiri gerbang, parkirkan motor di area motor yang akan digesek nomor rangka dan mesin (jangan diparkirkan di tempat parkir!).
 
3. Ambil formulir dengan menyerahkan STNK warna coklat dengan memberitahukan keperluan kita, apakah perpanjang STNK saja, perpanjang STNK dengan ganti plat, mutasi atau yang lainnya, sementara STNK yang satunya kita simpan.
 
4. Setelah formulir diisi serahkan kembali kepada petugas dan petugas akan memberikan formulir tadi kepada kita dengan arahan kita diperintahkan menuju petugas yang akan menggesek nomor mesin & rangka motor kita. 
 
5. Selesai digesek no. mesin & rangka motor. Hasil gesekan ditempelkan di formulir isian tadi. Serahkan kembali formulir ke petugas, tunggu dipanggil dan petugas akan memberikan pengesahan bersamaan formulir tadi.
 
6. Setelah itu, langkah selanjutnya kita menuju lantai I gedung Samsat untuk ambil dan mengisi formulir yang baru. Selesai pengisian, tanda tangani formulir tersebut yang ada di balik formulir (cara pengisian dapat mencontoh seperti yang ada di meja pengisian Samsat).
 
7. Selanjutnya naik ke lantai II untuk antri mengambil no. antrian pembayaran STNK, Plat dst, tentunya setelah kita menyerahkan foto kopi STNK, BPKB, KTP masing-masing sebanyak 2 lembar kepada petugas disertai dengan yang aslinya. KTP asli akan ditahan sementara oleh petugas dan kita dapat no. antrian. 
 
8. Silahkan tunggu, nomor kita akan dipanggil dan kita akan diberikan kwitansi pembayaran (sebanyak 3 lembar, warna putih (asli), hijau dan merah (kopian).
 
9. Lalu kwitansi tadi kita serahkan kepada petugas dengan menyertakan uang sejumlah yang tertera di kwitansi tersebut
 
(catatan: bayarlah sesuai dengan biaya yang tertera di kwitansi, biasakan dengan uang pas).   
 
10. Selanjutnya kwitansi warna merah (kopian) kita serahkan di tempat pengambilan STNK yang baru dan silahkan tunggu di bangku antrian.
 
11. Berikutnya, setelah proses pembuatan STNK, nama kita akan dipanggil petugas dan kita akan mendapatkan 2 lembar STNK yang baru, berupa Surat Ketetapan Pajak daerah PKB/BBN-KB dan SWDKLLJ serta Surat Tanda Nomor Kendaraan Bermotor, sementara plat nomor dapat kita ambil di belakang gedung kantor samsat dengan cara kita menyerahkan kwuitansi warna putih atau hijau terlebih dahulu dan tak beberapa lama plat nomor kita telah jadi.

Mudah bukan!

BERAPA BIAYANYA?

Inilah biaya yang saya keluarkan:
 
  •  PKB                 Rp.  129.000,-
  •  SWDKLLJ             Rp.   35.000,-
  •  BIAYA ADM. STNK     Rp.   50.000,-
  •  BIAYA ADM. TNKB     Rp.   30.000,-
          TOTAL          Rp. 244.000,-
 
      Ditambah dengan biaya pembuatan plat nomor Rp. 5.000,-
 
 
Catatan : Biaya di atas adalah administrasi motor merk VEGA -R 4 D7 TAHUN RAKITAN 2008. Tentunya biaya akan berbeda satu dengan yang lainnya, tergantung kepada jenis motor, tahun pembuatan, terlambat atau tidak dalam pembayarannya dan sebagainya.

Langkah-langkah diatas pada dasarnya sama di setiap kantor samsat, tidak hanya di kantor Samsat Jakarta Barat saja.

Dan akhirnya, biasakan membayar sesuatu dengan cara mengurus secara langsung, karena kita akan mengetahui dengan pasti prosedurnya dan tentunya biaya akan lebih ringan dibanding dengan mengurus melalui biro jasa.


Semoga cara mudah ini bermanfaat bagi kita semua.
 ___________________________


Yaumul Itsnain, 04/06/1434H / 15April 2013 M. Pkl. 21.35 WIB

Jumat, 12 April 2013

BAHAYA BUANG AIR KECIL SEMBARANGAN


Seorang anak laki-laki berlari keluar kelas, lalu tiba-tiba dia kencing sambil berdiri dengan santainya. Ketika ditanya, "Sudah kebelet," kilahnya.

Peristiwa seperti ini kerap kali terjadi di kalangan anak-anak pra sekolah. Bahkan kitapun pernah menemukan orang dewasa dengan santainya kencing di pinggir jalan, di bawah pohon, di dekat tembok dan di beberapa tempat lainnya tanpa dinding penghalang.

BAK (Buang Air Kecil) dan BAB (Buang Air Besar) harus diajarkan anak sejak dini. Ini merupakan pelajaran penting untuk anak. Ketika sang anak meminta paksa untuk BAK dan BAK sembarangan, maka orang tua harus segera mengarahkan dengan cara mengajak langsung menuju WC atau kamar mandi dan diberi pengajaran, inilah tempat yang benar untuk BAK dan BAB. Jika diajarkan sejak dini, insya Allah akan tertanam di hati sang anak dan akan membawa hal yang positif di kemudian hari ketika dia besar kelak.

BAK dan BAB sembarangan sepintas memang tidak berbahaya bagi si pelakunya, namun ditilik dari sudut kesopanan, maka ini dianggap tidak sopan. Terlebih lagi jika dilihat dari sudut pandang agama Islam. Perbuatan ini (BAK sembarangan dan tidak istinja/membersihkan diri dari najis, lagi di tempat terbuka) ancaman cukup besar, bahkan salah satu azab yang didahulukan di alam kubur.

Ibnu Abbas radiyallahu 'anhu menuturkan bahwa Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam melewati dua buah kuburan. Beliau lalu bersabda,"Dua orang penghuni kubur ini sedang disiksa. Keduanya disiksa lantaran perkara yang mereka anggap bukan dosa besar. Salah seorang di antara keduanya tidaklah bertabir ketika kencing. Sedangkan satunya lagi adalah orang yang suka mengadu domba."
(HR. Bukhari dalam al Wudhu (8), Muslim dalam ath Thaharah (111).

Subhaanallah, betapa besar ancaman dari Allah terhadap pelaku BAK sembarangan ini. Karenanya, hati-hatilah terhadap hal ini, tetaplah hidup bersih, tertib, serta tetaplah menjaga kesopanan dalam hal kebersihan diri, pakaian dari segala bentuk kotoran dan najis.

______________

Jakarta al Gharbiyyah, Ba'da Shalaatil Isyaa', Yaumus Sabt, 02/06/1434 H. Pkl. 18.40 WIB.

Kamis, 11 April 2013

PERSATUAN KAUM MUSLIMIN


Dalam sebuah taushiyahnya seorang ustadz mengatakan, "Bagaimana mau bersatu, sementara ketika diperintahkan  untuk merapatkan shaf (barisan) dalam shalat saja tidak mau."

Menarik untuk diperhatikan ungkapan sang ustadz ini. Benarlah apa yang dikatakannya. Sejatinya sering kita saksikan dalam pelaksanaan shalat berjama'ah, begitu lalainya mereka sehingga tidak memperhatikan kerapatan dan kelurusan shaf. Sementara perintah merapatkan dan meluruskan barisan sering kali diucapkan   Rasulullah ketika beliau memimpin shalat berjamaah, seperti perkataan beliau,

"Luruskan shaf-shaf kalian, karena kelurusan shaf-shaf itu termasuk kesempurnaan shalat." (HR. Ahmad dalam Musnad al Muktsirin (12348), Muslim dalam as Shalat (433).

"Wahai hamba Allah hendaklah kalian meluruskan shaf-shaf kalian atau Allah akan menimbulkan perselisihan di antara kalian" (HR. Bukhari dalam al Adzan (676), Muslim dalam as Shalat (436).

Keritera kerapatan dan kelurusan shalat digambarkan Nabi dengan cara merapatkan kaki dengan kaki, pundak dengan pundak.

Sebagian kaum muslimin yang berbicara tentang persatuan dan kesatuan kaum muslimin dengan cara menyatukan berbagai macam firqh yang ada dan tidak boleh saling kritik atau menjatuhkan. Potensi yang ada hendaklah dikembangkan, sementara pemahaman yang berbeda diantara firqah tersebut dibiarkan menurut keyakinan mereka.

Bahkan untuk menyatukan umat menurut sebagian mereka adalah dengan cara merayakan beberapa peringatan-peringatan seperti maulid Nabi, Isra' Mi'raj, Nuzulul Qur'an dan sebagainya.

Subhanallah suatu perkataan yang tidak berdasarkan dalil sama sekali. Bahkan hanya berdasarkan praduga dan logika semata.

Hendaklah kita memulai memupuk rasa persatuan itu dengan cara melaksanakan perintah Rasul dengan meluruskan dan merapatkan shaf dalam shalat dahulu. Karena dari pelaksanaan shalat berjamaah ini insya Allah akan terbentuk rasa persatuan dengan sesama kaum muslimin dalam satu masjid di dalam suatu wilayah tertentu.  

Mari kita mulai dari sekarang, insya Allah persatuan di antara sesama muslim akan segera terwujud.

______________________

Referensi:

1. Syaikh Abdul Ghani al Maqdisi. Umdatul Ahkam.


Yaumul Jum'ah, 01/06/1434 H - 12 April 2013 M. Pkl. 10.45 WIB

UCAPKANLAH DENGAN LEMBUT


Berdakwah adalah suatu perbuatan mulia dihadapan Allah Jalla wa 'Alaa, bahkan tidaka ada perkataan terbaik selain perkataan orang yang mengajak kepada jalan Allah. Namun dalam berdakwah sangat diperlukan cara dakwah yang sesuai dengan perilaku dakwah para Rasul terdahulu termasuk juga dakwahnya Rasul yang mulia, Muhammad shallallaahu 'alaihi wasallam.

Dakwah yang dimaksud adalah dakwah kepada sesama muslim atau kepada non-Muslim. Contoh jelasnya di antaranya dakwah para Rasul yang mulia seperti Nabi Musa dan Harun. serta Nabi Muhammad  shallallaahu 'alaihi wasallam. Di antara sifat dakwah mereka adalah bersifat lemah lembut, santun dan tidak berkata kasar kepada kaumnya (yang didakwahi).

1. Dakwah Nabi Musa dan Harun kepada Fir'aun.

Inilah perintah Allah kepada Musa dan Harun alaihimas salaam ketika mendakwahi Fir'aun la'natullaah 'alaihi.

"Pergilah kamu berdua kepada Fir'aun, sesungguhnya ia telah melampaui batas, maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut." (QS. Thaahaa 43-44).


2. Dakwah Nabi  Muhammad shallallaahu 'alaihi wasallam.

"Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersifat keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu." (QS. Ali Imran: 159)

Berkata halus, lemah lembut dalam berdakwah akan menghasilkan manfaat sebagai berikut:

1. Mengingatkan orang yang didakwahi, mungkin saja mereka lupa terhadap peringatan yang ada atau menjadikan mereka takut terhadap ancaman Allah.

2. Akan mendekatkan orang yang didakwahi kepada kita yang mendakwahi, sebaliknya jika kita kasar dalam berdakwah maka orang-orang akan lari dari cara dakwah kita, walaupun telah direncanakan dengan cara yang dianggap terbaik. Wallaahu a'lam.

___________________

Yaumul Jum'ah, 01/06/1434 H - 12 April 2013 M. Pkl. 10.10 WIB.
 

Sabtu, 09 Februari 2013

ADA PENGAJIAN HINGGA DINI HARI


Di suatu pagi ada dialog antara dua orang ibu muda dengan satu anak dengan ibu beranak empat. Dengan logat Betawinya mereka berdua berbicara: "Emangnya anak lu kenapa nangis semalam, ibunya tidur kali". Oleh ibu beranak satu dijawab: "Enggak, enggak tidur!". "Kan itu jam setengah dua, baru saja pulang ngaji." Kata ibu yang beranak empat.

Tulisan ini tidak ingin mengupas kenapa sang anak bayi berumur batita ini menangis, tetapi fokus pembicaraan adalah pengajian yang berakhir pada waktu dini hari.

Ta'lim adalah ibadah yang tidak diragukan lagi kewajibannya, sebagaimana sebuah riwayat menyebutkan: "Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim".

Ini salah satu dalil diwajibkannya menuntut ilmu. Sementara al Qur'an yang mulia menyuruh hambanya untuk selalu menambah ilmu. Melalui firmannya, Allah berfirman:

"Katakanlah (wahai Muhammad), ya Allah tambahilah ilmuku." (QS. Thaahaa: 114).

Yang menjadi persoalannya adalah mengaji hingga larut malam. Tidak menjadi perhatian Nabi Muhammad memberikan ilmu kepada para sahabatnya hingga larut malam sepengetahuan penulis. Dan perlu dipahami Rasulullah sendiri tidur setelah melakukan ba'diyah Isya, kecuali kalau ada keperluan, itupun tidak sampai dini hari. Wallahu a'lam.


Kebanyakan pengajian-pengajian yang diadakan hingga dini hari biasanya yang dalam bentuk Tabligh Akbar dengan mengundang sejumlah da'i terkenal (dalam lingkungan mereka) yang berbicara secara maraton, bergantian satu dengan yang lainnya dengan batasan waktu yang telah ditentukan panitia acara dengan didahului acara-acara yang lainnya. Ini lazimnya dilakukan ba'da Isya hingga dini hari.

Atau pengajian dalam bentuk Majelis Dzikir Jama'i. Biasanya dengan melantunkan beberapa bacaan dzikir yang biasanya sebagian besar jama'ahnya berkostum yang sama, putih-putih dengan dipimpin oleh seorang imam.

Kedua jenis pengajian seperti  ini sama sekali idak pernah dicontohkan Rasulullah, para sahabat, tabi'in, dan tabi'ut tabi'in. Apalagi ini dilakukan hingga dini hari.

Mengenai Dzikir Jama'i, sahabat Ibnu Mas'ud telah mengingkari jenis dzikir dengan cara seperti ini. Ketika beliau radhiyallahu 'anhu memasuki salah satu masjid yang ada di Kufah dan melihat manusia berkelompok-kelompok dengan dipimpin oleh seorang  pimpinan yang tengan membaca dzikir-dzikir tertentu dengan bilangan-bilangan tertentu dengan dikomandoi oleh pimpinan jamaah tersebut. Dengan pengingkaran yang keras terhadap perbuatan mereka, sahabat yang mulia ini berkata: "Apakah ajaran agama kalian lebih afdal dari agama yang dibawa oleh  Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam atau kalian membuka pintu-pintu kesesatan."


__________________________

@yaumul ahad, 29/3/1434 H. Pkl. 08.35 WIB.

2 SURAT YANG AMAT TERKENAL

Al Qur'an terdiri dari 114 surat dimulai dari surat al Faatihah dan diakhiri dengan surat an Naas. Ada yang diturunkan Allah dengan ada sebab musababnya (asbabun nuzul) dan ada yang tidak. Antara satu surat dengan surat yang lain atau satu ayat dengan ayat yang lain memiliki keistimewaannya tersendiri sebagaimana disebutkan dalam beberapa hadits Nabi yang mulia shallallahu 'alaihi wa sallam. Di antaranya adalah sebagai berikut:

1. Dua surat yang tidak ada yang setara dengannya yakni  al Falaq dan an Naas (disebut dengan al Mu'awwadzatain) (HR. Muslim).

2. Al Ikhlash yang sama dengan atau sebanding dengan 1/3 al Qur'an (HR. Muslim).

3. Surat al Kafirun setara dengan 1/4 al Qur'an (Hadits dihasankan oleh syaikh al Albani).

4. Surat al Mulk, jika membacanya setiap malam, maka akan menjadi pembela bagi pembacanya (HR. at Tirmidzi).

Sementara ayat yang agung yang ada dalam al Qur'an dan yang begitu ditakuti oleh bangsa jin yaitu Ayat Kursi (surat al Baqarah ayat 255).

Namun di kalangan masyarakat awam ada dua surat yang begitu amat terkenal yang sering dibaca di setiap kesempatan dan di waktu-waktu tertentu, baik itu di rumah-rumah, majelis ta'lim, pondok-pondok pesantren, masjid, musholla, dan karena saking seringnya dibaca sehingga hafal di luar kepala. Dua surat tersebut adalah surat al Faatihah dan Yaasiin.

Untuk surat al Faatihah, mereka biasanya membacanya untuk  mengirimkan pahala kepada orang-orang yang telah meninggal dunia termasuk kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam atau dibaca sebagai salah satu dzikir setelah shalat.

Sedangkan surat Yaasiin mereka baca pada kesempatan di setiap ta'lim mereka (khususnya pengajian kaum ibu) sebelum pelajaran inti yang disampaikan ustdz/ustadzah mereka. Mereka juga membacanya di malam atau hari Jum'at atau ketika malam-malam pertama sampai ketujuh dari hari kematian seseorang. Dan biasanya juga sebagian mereka membacanya ketika ziarah kubur. Mereka membaca dengan motif-motif atau tujuan-tujuan tertentu.

Apakah amalan-amalan mereka sesuai dengan sunnah?

Jika melihat keterangan para ulama hadits, maka tidak ada satupun riwayat yang shahih berkaitan dengan  amalan-amalan yang mereka lakukan.

Sebagai contoh, mereka membaca  al Faatihah pada setiap kesempatan dengan dalil: al Fatihah lima quriat lahu (al fatihah sesuai dengan apa yang dibaca/dinginkan). Ini dihukumi maudhu' (hadits palsu) oleh para ulama hadits.

Sementara dalil yang mereka pakai untuk menguatkan pembacaan Yaasiin pada setiap malam di antaranya:

"Barangsiapa yang membaca surat Yaasiin dalam satu malam, maka ketika ia bangun pagi hari diampuni dosanya." (Riwayat Ibnu Jauzi dalam al Maudhu'aat 1/247)

"Barangsiapa terus menerus membaca surat Yaasiin pada setiap malam kemudian ia mati, maka ia mati syahid" (HR. Ath Thabrani dalam al Mu'jamush Shagiir)

Kedua hadits di atas dihukumi MAUDHU' (PALSU) oleh para ulama hadits.

Agar lebih jelas mengenai kedudukan hadits-hadits tentang fadilah (keutamaan) membaca surat Yaasiin dapat kita lihat dalam buku YASINAN buah karya ust. Yazid bin Abdul Qadir Jawas hafizhahullah ta'ala.


_______________________

Sumber:

1. Tafsir al Muyassar Jilid ke-3. Penerbit an Naba Cetakan ke II Januari 2012.
2. Ust. Yazid Abdul Qadir Jawwas. Yasinan. Media Tarbiyah Bogor Oktober 2009.

@Yaumul Ahad, 29/3/1434 H. Pkl. 08.00 WIB.