Selasa, 15 Januari 2013

PENJELASAN TENTANG AL QURAN BERBICARA


Pada kesempatan yang lalu, tepatnya pada tanggal 8 Desember 2012, penulis pernah mengetengahkan sebuah tulisan yang berjudul BINATANG BERBICARA? Salah satunya adalah Al Qur'an sebagai salah satu katagori amal shalih yang berbicara.

Yang menjadi pertanyaan adalah bukankah Al Qur'an itu Firman Allah, sementara yang berbicara itu kan makhluk? 

Ya, Al Qur'an itu adalah Kalamullah. Bukan makhluk. Jadi yang dimaksud dengan Al Qur'an berbicara adalah  perbuatan amalnya. Itulah pendapat para ulama dalam menafsirkan hadits yang berbunyi:

"Dan Al Qur'an berkata,"Saya telah mencegahnya dari tidur di waktu malam, maka berikanlah syafaat kepadanya." (HR. Ahmad).. 

Inilah penjelasan singkat tentang Al Quran berbicara atau Al Qur'an akan mendatangi para pembacanya untuk memberikan syafaat dengan izin Allah kepada mereka. Hal ini dijelaskan agar tidak menimbulkan kerancuan dan salah persepsi. Wallahu a'lam.

___________________________________

Referensi:

Kajian Ust, Abu Yahya Badrussalam di Radio Rodja. Selasa Sore Tanggal 3 Rabi'ul Awwal 1434H.

@4 Rabi'ul Awwal 1434H. Pkl. 22.00 WIB.

Jumat, 04 Januari 2013

KISAH DUA INSAN


Dalam Minggu-minggu ini, kita disajikan berita tentang dua orang anak manusia yang berbeda kedudukannya dalam menjalani kehidupannya.

Yang pertama adalah anak seorang pejabat tinggi dan yang kedua adalah anak seorang rakyat jelata yang bekerja hanya sebagai seorang OB (Office Boy). 

Dalam pemberitaan beberapa media disebutkan bahwa, anak seorang pejabat ini, qadarullah mobil yang sedang dia kendarai menabrak sebuah mobil yang ada di hadapannya, sehingga menewaskan dua orang korban yang berusia 50 dan 1,5 tahun. Peristiwa ini berujung kepada delik hukum (penjara).

Namun yang patut diacungi jempol adalah sang bapak pelaku tabrakan ini, yang notaben adalah salah seorang menteri dan sekaligus besan dari orang nomor satu di pemerintahan pusat, menyerahkan urusan ini kepada pihak yang berwenang (polisi) untuk diselesaikan sesuai dengan hukum yang berlaku. Sang bapak tidak menggunakan jabatannya untuk menolong putranya. Tidak menggunakan jurus aji mumpung. Ya mumpung menjadi pejabat negara.

Ingatlah, dahulu ketika ada salah seorang sahabat yang datang kepada Rasulullah untuk meminta kepada beliau keringanan hukum bagi salah seorang pelaku maksiat, namun Rasulullah marah besar, bahkan beliau mengatakan, "Lau anna Faatimata binta Muhammadin saraqat, laqata'tu yadahaa (Seandainya Fatimah binti Muhammad mencuri, aku akan potong tangannya)."

Sementara cerita yang lain, sang OB, yang bekerja di sebuah bank swasta di Bekasi mendapatkan sebuah ujian, namun dengan kesabaran dan kejujurannya akhirnya ujian tersebut membawa kebahagiaan bagi dirinya dan keluarganya.

Hal ini berawal, ketika beliau menemukan seonggok bungkusan kertas yang berisi uang sebesar RP. 100.000,- di salah satu keranjang sampah. Tentu saja uang sebesar ini bagi dirinya dan bagi kita semua adalah jumlah yang sangat besar. Namun dengan kejujurannya uang tersebut diserahkan kepada pihak bank tempat dia bekerja melalui seorang satpam.

Kejujuran membawa nikmat. Sang OB ini mendapatkan penghargaan dari pihak bank tempat beliau bekerja dan yang tidak kalah beruntungnya adalah ketika salah satu partai politik memberangkatkannya pergi umrah bersama dengan isteri dan kedua orang tuanya. Tidak sampai di situ, partai poltik peserta pemilu tahun 2014 ini-pun akan menjadikannya sebagai salah satu caleg (calon legislatif) pada pemilu yang akan datang.

Inilah kisah singkat jalan hidup dari dua orang insan yang memang sudah ditentukan Allah sejak 50.000 tahun sebelum Allah ciptakan langit dan bumi. 

Ada beberapa hikmah yang dapat kita ambil dari kisah tersebut di atas:

1. Ketergesa-gesahan akan membawa akibat buruk bagi pelakunya.

2. Tidak menggunakan jabatan untuk kepentingan pribadi, karena Jabatan akan diminta   pertanggunganjawabnya di akhirat kelak.

3. Hukum harus ditegakkan, walaupun terhadap anak seorang penguasa.

4. Seorang mukmin harus ada dalam hatinya selalu ada dalam pengawasan Allah subhanahu wa ta'ala.

4. Kesabaran serta kejujuran akan menghantarkan orang kepada keberuntungan, bukan hanya di dunia tetapi juga di akhirat.

____________________

@ 22 Shafar 1434 H/ 05 Januari 2013 M. Pkl. 06.40 WIB.

Senin, 31 Desember 2012

UCAPAN NATAL


Beberapa hari menjelang peringatan Natal, muncul peringatan dari ketua umum MUI (Majelis Ulama Indonesia) yang mengharamkan seorang muslim untuk mengucapkan selamat Natal kepada umat Nasrani. Setelah itu muncul beberapa pernyataan dari menteri tentang kebolehan mengucapkan Natal, disusul oleh beberapa tokoh organisasi terbesar di Indonesia. Bahkan salah seorang tokoh tersebut mengatakan,"Saya jamin aqidah mereka tidak akan luntur setelah mengucapkan Natal."

Subhanallah, betapa yakinnya orang ini menjamin aqidah seseorang. Sesuatu yang begitu fundamental dalam agama. Sesuatu yang hanya Allah yang mengetahuinya.

Setelah itu muncul pula komentar-komentar dari orang-orang awam khususnya di dunia maya. Banyak sekali komentar yang intinya ketidaksetujuan mereka terhadap  pernyataan petinggi MUI tersebut. Bahkan ada salah satu komentar yang amat sombong, "Kenapa harus dilarang, inikan masalah pribadi. Saya akan mempertanggungjawabkan perkataan saya di hadapan Tuhan."

Subhanallah kita katakan. Sungguh berani dia mengungkapkan hal ini, tidakkah dia takut dengan azab Allah yang begitu pedih! 

Lepas dari itu semua, yang perlu dicermati dan diperhatikan adalah siapa yang mengungkapkan kebolehan ucapan Natal tersebut? 

Agama Islam ini adalah agama dalil. Berdasarkan qoolallaah wa qoolarrasuul (ucapan Allah dan Rasul) dan pemahaman para sahabat yang mulia. Bukan berdasarkan hawa nafsu dan akal semata.

Siapapun orangnya, apapun pangkat dan kedudukannya, kalau perkataannya menyelisihi Allah dan Rasul-Nya (Al Qur'an & As Sunnah), maka wajib untuk ditolak. 

Imam Malik pernah mengatakan:
"Perkataan seseorang bisa diambil dan bisa ditinggalkan kecuali ucapan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam (wajib diterima)."

Mengucapkan Selamat Natal dan hari Raya kepada orang kafir hukumnya haram berdasarkan ijma "ulama. hal ini dikuatkan dengan perkataan Ibnu Qayyim rahimahullah ta'ala:

"Mengucapkan selamat atas hari raya yang menjadi ciri khas orang kafir hukumnya haram berdasarkan kesepakatan ulama. Seperti mengucapkan selamat atas hari raya mereka atau puasa mereka dengan mengatakan, Selamat Natal dan Tahun Baru masehi.....(Selamat Paskah, Selamat Waisak, Selamat nyepi, dsm)." kalaupun yang mengatakan tidak jatuh kepada kekafiran, tetap saja itu perbuatan haram yang setara dengan mengucapkan selamat kepada seseorang karena sujud kepada salib; bahkan ucapan selamat tadi lebih besar dosanya di sisi Allah dan lebih dimurkai-Nya daripada mengucapkan selamat kepada yang minum khamer atau membunuh orang lain, atau berzina, dan semisalnya. Namun banyak kalangan yang tidak menghargai agamanya, terjerumus dalam perbuatan yang sangat 'menjijikan' tersebut tanpa disadari.... Sebab barangsiapa mengucapkan selamat kepada seseorang yang berbuat maksiat, bid'ah, atau kekafiran berarti menjerumuskan dirinya kepada murka dan amarah Allah." (Disadur dari kitab Ahkaam Ahlidz Dzimmah)(www.muslim.or.id)

_____________________

@Yaum ats-Atsulaatsa, 18 Shafar 1434H / 01 januari 2013M. Pkl. 07.27 WIB



Minggu, 30 Desember 2012

MENJUAL TEROMPET


Ketika Anda keluar rumah atau bepergian ke suatu tempat, maka sepanjang jalan atau di suatu jalan yang kita lalui, ada saja para penjual yang sedang menjajakan barang dagangannya. Pedagangnya-pun spesial. Tidak lain mereka adalah para pedagang musiman yang kerap terlihat di setiap penghujung akhir tahun. Tidak lain mereka  adalah para pedagang terompet dengan berbagai rupa dan bentuknya. Terkadang mereka sudah mulai berdagang sejak seminggu yang lalu.

Lalu bagaimana hukum menjual peralatan-peralatan untuk memeriahkan perayaan pergantian tahun baru tersebut? Para ulama berpendapat, ini merupakan salah satu bentuk tolong-menolong dalam dosa dan pelanggaran. Hal ini berdasar kepada ayat Al Qur'an.

"Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya." (QS. Al Maidah: 2).

Ayat di atas sungguh sangat jelas redaksinya. Yakni pelarangan dalam bertolong-menolong dalam dosa dan pelanggaran. 

Dengan menjual terompet atau peralatan yang mendukung perayaan tahun baru tersebut, berarti para pedagang telah saling bahu- membahu dalam kemaksiatan kepada Allah.

Jadi, bagi para pedagang, hindarilah menjual peralatan-peralatan ini, karena hasil penjualannya-pun tidak halal untuk dimakan atau minimal subhat (sesuatu yang meragukan). Sementara sebagai seorang muslim haruslah menjauhi perkara subhat sejauh-jauhnya.

Jangan mencari rizki dengan cara memaksiati Allah, Sang Pemberi Rizki. Carilah pendapatan dari yang lain, yang tentunya jelas kehalalannya. Insya Allah rizki kita menjadi berkah.

Semoga Allah memberikan petunjuk kepada kita semua.

______________

@Yaumul Itsnain, 17 Shafar 1434 H/ 31 Desember 2012 M. Pkl. 10. 40 WIB.

PERAYAAN TAHUN BARU


Beberapa jam lagi, pergantian tahun 2012 ke tahun 2013 akan segera berlangsung. Di sana-sini orang mempersiapakan diri dan keluarga menyambut tahun baru tersebut. Berbagai aksesoris dipersiapkan untuk itu, mulai dari terompet, balon gas, mercon (petasan) sampai kembang api. Namun ironisnya, yang terlibat di dalamnya sebagian besar adalah saudara-saudara kita kaum muslimin. Mulai dari pejabat sampai rakyat jelata. Sungguh sangat disayangkan dan hal seperti ini terjadi dari tahun ke tahun. Musibah.

Keterlibatan mereka di dalamnya memang kita yakini ini adalah kekurangpahaman mereka tentang hukum merayakan tahun baru. Yang perlu dipahami bahwa perayaan-perayaan seperti ini sama sekali sekali bukan berasal dari ajaran agama kita, Islam. Tetapi ini adalah kebiasaan orang-orang non-muslim.

Perayaan yang diperbolehkan dalam Islam hanya ada pada dua hari raya, Idul Fithri dan Idul Adha. Tidak pada yang lain. Juga tidak pada pergantian tahun baru Hijriyah, apalagi pergantian tahun Masehi. Sama sekali tidak pernah diajarkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

Karenanya kepada kaum muslimin yang terbiasa merayakan perayaan-perayaan seperti ini, kembalilah kepada ajaran Islam yang benar. Ikuti qudwah (contoh) kita dalam beragama yakni Rasulullah, tidak mengikuti kebiasaan orang yang di luar Islam, karena ini termasuk tasyabbuh (penyerupaan) perilaku  suatu kaum. Dan penyerupaan seperti ini haram hukumnya.

"Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia sama seperti mereka." (HR. Ahmad).

Disamping tasyabbuh, perayaan-perayaan seperti ini juga akan melahirkan sifat boros dalam penggunaan harta. Pemborosan terjadi ketika membeli aksesoris atau apapun yang mendukung perayaan tersebut. Sementara boros adalah suatu hal yang dilarang agama dan termasuk perilaku syaitan yang perlu dijauhi. Dan ingat, harta yang kita keluarkan kelak akan ditanya oleh Allah di Hari Kiamat kelak. Manfaatkan harta di jalan Allah, tidak untuk pemborosan dan maksiat kepada-Nya.

______________________

@Yaumul Itsnain, 17 shafar 1434 H/31 Desember 2012 M. Pkl. 09.45 WIB.

Minggu, 23 Desember 2012

BOLEHKAH TAKUT KEPADA SYETAN?


Takut merupakan salah satu sifat yang dimiliki oleh manusia.  Namun ketakutan seperti apa yang diperbolehkan dan yang tidak? Dan siapakah manusia yang paling takut itu?

Pada dasarnya ketakutan itu hanyalah kepada Allah. Namun ada ketakutan yang masih bisa ditoleril atau diperbolehkan dalam Islam, seperti  takutnya seseorang kepada binatang buas; harimau, singa, buaya, kalajengking,  serta takutnya seseorang kepada perompak, pencuri, penjambret dan sebagainya. Para ulama menyebut ketakutan seperti ini adalah ketakutan thabi'i atau tabiat (manusia). Dan ini adalah sesuatu yang tidak terlarang. 


Lalu bagaimana dengan ketakutannya seseorang yang berjalan di tengah malam karena melewati pemakaman, rumah, atau pohon yang dianggap angker oleh sebagian manusia? Atau takut bangun di tengah malam, karena baru saja dtinggal mati oleh salah seorang keluarganya, atau takut karena tetangganya baru saja meninggal dalam keadaan hamil. Apakah ketakutan ini diperbolehkan?

Inilah bentuk contoh ketakutan yang dilarang dan bisa jatuh kepada kesyirikan. Wal 'iyaadzu billaah!


Lalu siapakah manusia yang paling takut kepada Allah? Inilah jawabannya!




 3 $yJ¯RÎ) Óy´øƒs† ©!$# ô`ÏB ÍnÏŠ$t6Ïã (#às¯»yJn=ãèø9$# 3    

"Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara  hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama."  (QS. Faathir: 28).

Lalu apa perbedaan takut yang thabi'i dengan takut kepada Allah?

Jika seseorang takut yang  thabi'i maka dia harus menghindari dari bahaya tersebut. Seperti seorang yang takut kepada seekor singa, maka dia harus menjauhinya, agar tidak diterkam. Sedangkan jika seseorang takut kepada Allah, maka dia harus mendekat (taqarrub) sedekat-dekatnya kepada-Nya dengan melakukan amalan-amalan  shalih yang diperintahkan.

Lalu bagaimana caranya agar kita tidak takut kepada syetan dan bangsa jin lainnya? Sedikitnya ada 3 cara agar tumbuh keberanian kepada syetan:

1. Memperbanyak dzikir kepada Allah.
2. Memperbanyak ibadah kepada Allah.
3. Menjauhi segala bentuk kemaksiatan kepada Allah.

Semoga kita bisa menjadi hamba-hamba yang takut kepada Allah, takut akan siksa dan azab-Nya di akhirat kelak. 

_____________________

Maraji':

1. Kajian Ust. Abu Haidar as-Sundawi. Jum'at sore di radio Rodja. Tanggal 7 Shafar 1434 H (kajian ulangan).


@Ahad, 10 Shafar 1434 H.Pkl.  21.00 WIB.

Sabtu, 22 Desember 2012

DUNIA DAN AKHIRAT SEIMBANG?


Pada Jum'at yang lalu, seorang khatib mengakhiri khutbahnya dengan mengatakan, "kita harus menyeimbangkan antara kehidupan dan akhirat."

Kalimat ini mungkin sering kita dengar, bukan hanya saya saja mungkin. Yang mengatakan seperti ini tidak hanya orang awan saja, tetapi orang yang dianggap alim, seperti ustadz di atas dan para ustadz yang ada di masyarakat lainnya pernah mengatakan ungkapan ini. Tapi benarkah ungkapan kita harus membagi permasalahan dunia dan akhirat setengah-setengah alias fifty:fifty (50:50)? 

Yang perlu dipahami, kehidupan dunia dan akhirat sungguh sangat jauh berbeda, dunia itu bersifat sementara sedangkan akhirat itu abadi (kekal).

Kalau dikatakan kita harus membagi dunia akhirat seimbang, itu sesuatu yang tampaknya berlebihan dan tidak berdasarkan fakta. Fakta sesungguhnya justeru kebanyakan dunia lebih diutamakan orang ketimbang akhirat. Apa buktinya?

Coba kita hitung! Waktu dalam sehari semalam yang kita ketahui adalah 24 jam. Kita tanyakan kepada yang berkata kita harus seimbang dunia-akhirat, "Apakah Anda beribadah kepada Allah, seperti shalat dan yang lainnya selama 12 jam non-stop, dimulai dari jam 06.00 pagi - 06.00 sore, atau dari jam 12.00 malam - 12.00 siang, atau sebaliknya?"

Kenyataannya tidak. Apa faktanya? Ibadah wajib yang kita lakukan sehari semalam berupa shalat lima waktu. Jika kita hitung setiap shalat yang kita tunaikan selama 10 menit, berarti 50 menit saja kita menghadap Allah dalam shalat kita. Di mana sisanya dari 12 jam tadi? Sisanya tidak lain dimanfaatkan untuk kepentingan dunia. Apa contohnya? Bekerja, tidur, makan minum, bermain, mengobrol, dan sebagainya. Bukankah itu urusan dunia? Belum lagi orang yang tidak pernah melaksanakan kewajiban, seluruh waktunya hanya untuk kepentingan dunia saja.

Orang yang mengatakan harus ada keseimbangan kehidupan dunia dan akhirat sangat bertentangan dengan beberapa ayat berikut.

"Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal." (QS. Al-A'laa: 17)

"Dan Sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan)." (QS. Adh-Dhuha: 4)

Dua dalil di atas sudah sangat jelas tentang keutamaan akhirat ketimbang alam dunia. Jadi, kita harus melebihkan kehidupan akhirat daripada dunia. Tetapi kita-pun jangan hanya mengkhususkan akhirat saja sementara dunia dilupakan, seperti tidak mau menikah, bekerja, bergaul, dan sebagainya. Yang diinginkan hanyalah mengasingkan diri di hutan atau di tempat tertentu dan menghindari diri dari keramaian masyarakat. Ini salah besar. Perbuatan seperti ini tidak jauh berbeda dengan orang-orang sufi. Bagaimana caranya yang benar? Inilah tuntunan Allah dalam Al Qur'an .

"Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan." (QS. Al-Qashash: 77)



_______________________

Sabtu, 8 Shafar 1434 H. Pkl. 16.45 WIB.