Rabu, 05 Desember 2012

KEMASLAHATAN MENGIKUTI SUNNAH


Mengikuti sunnah di samping kewajiban sebagai muslim, juga memiliki kemaslahatan yang banyak, baik bagi diri maupun orang lain.

Salah satu contoh dalam mengikuti sunnah adalah dengan mencontoh waktu tidurnya Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Memangnya kapan waktu tidurnya Rasul? 
Allah tabaraka wa ta'ala telah berfirman:  

"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah." (QS. al Ahzab: 21).

Sungguh jelas dalam ayat di atas, sesungguhnya pada diri Rasul itu ada padanya suri tauladan, termasuk dalam masalah tidur. Dimana letak kemaslahatan tidurnya Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam bagi umat ini.

Anda pernah merasakan gelapnya malam akibat ada pemadaman listrik secara bergilir yang dilaksanakan PLN? Mengapa hal itu bisa terjadi? Di antara alasannnya, PLN tidak memiliki pasokan cukup energi listrik sehingga harus mematikan listrik di sebagian daerah dan menghidupkan di daerah yang lain.

Sebenarnya, jika pola waktu tidur Rasul diterapkan di masa-masa sekarang, niscaya kita akan terhindar dari apa yang disebut pemadaman listrik secara bergilir. 

Memangnya pola waktu tidur Rasulullah seperti apa sih?

Rasulullah tidur setelah menunaikan ibadah shalat Isya dan ba'diyahnya. Beliau tidak tidur sampai larut malam kecuali ada keperluan. Pengecualian ini antara lain mudzakarah ilmu, melayani tamu dan sebagainya. Dan kebiasaan Rasul tidak tidur sebelum melaksanakan shalat Witir, baik di awal atau di akhir malam. Tetapi Rasul lebih banyak mengerjakan Witirnya pada akhir malam setelah shalat Lail (Tahajud). 

Rasulullah memberi nasihat kepada sahabat Abu Hurairah radiyallahu 'anhu untuk tidak tidur sebelum mengerjakan shalat Witir dahulu.

"Kekasihku pernah memberiku 3 nasihat: puasa 3 hari pada setiap bulan, shalat 2 rakaat di waktu Dhuha, dan Witir sebelum tidur."  (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam kesempatan lain, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bertanya kepada Abu Bakar dan Umar tentang shalat Witir mereka berdua. Disebutkan dalam riwayat tersebut, Abu Bakar Witir di awal malam sedangkan Umar di akhir malam, lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepada Abu Bakar, " Abu Bakar telah mengambil jalan kehati-hatian. Kepada Umar Rasulullah bersabda, "Umar telah mengambil jalan kekuatan." (HR. Abu Daud).

Inilah letak kemaslahatannya. Karena dalam sebuah riwayat Rasulullah memerintahkan umatnya untuk mematikan lampu pada saat tidur. 

Dari Jabir bin Abdullah bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Matikan lampu-lampu di waktu malam jika kalian hendak tidur, tutuplah pintu-pintu, bejana, serta makanan dan minuman kalian." (HR. Bukhari dan Muslim)

Inilah termasuk penghematan. Kalau dahulu di zaman beliau belum ada yang namanya lampu listrik, tetapi yang ada saat itu adalah minyak. Mematikan lampu minyak pada saat tidur itu akan menghemat penggunaan minyak yang dipakai.

Demikian pula, jika umat Islam menerapkan cara ini dengan cara mematikan lampu listrik saat tidur, maka ini akan menghemat ribuan watt listrik. Subhanallah. Dan ini suatu penghematan yang besar lagi menguntungkan pihak PLN. 

Dan yang lebih menguntungkan lagi dari meniru pola tidur Nabi, seseorang bisa  bangun di sepertiga akhir malam, tidak lain adalah untuk melaksanakan qiyamul lail (shalat malam). Sungguh ini akan memperoleh Keuntungan ganda. Keuntungan dunia dan akhirat.

Mulailah dengan sunnah ini, insya Allah kemashalatan akan selalu bersama kita.


______________________________________
22 Muharram 1434 H/6 Desember 2012 M. Pkl. 6.45 WIB

Senin, 03 Desember 2012

SEBAIK-BAIK TEMAN DUDUK


Ada suatu ungkapan dalam bahasa Arab "KHAIRUL JALIISI AL KITAAB" yang bermakna sebaik-baik teman duduk adalah buku. Di dalam ungkapan yang lain pun ada yang mengatakan buku adalah jendela dunia.   

Dua ungkapan ini ada benarnya. Ketika seseorang pergi ke suatu tempat, apakah dia keluar negeri atau luar kota. Terkadang kendaraan yang dia pakai adalah pesawat, kereta api, bis kota, kapal laut, atau memakai kendaraan pribadi.

Kepergiannya bisa sendiri atau bersama-sama, baik dengan keluarga, teman kerja, handai taulan atau yang lainnya. Ketika seseorang pergi sendiri tanpa seorang temanpun yang menemani, terkadang untuk mengisi kekosongannya atau menunggu antrian tiket. Atau menunggu pesawat, kereta api, kapal laut datang, seseorang hanya terbengong-bengong atau melamun saja.

Orang yang cerdik nan pandai pasti akan memanfaatkan waktu luang untuk mengambil teman duduknya. Teman duduk yang terbaik adalah membaca. Oleh karenanya, persiapan ketika keberangkatan sungguh sangat penting dilakukan. Bukan hanya biaya transportasi saja yang dipersiapkan (itu memang yang terpenting), tetapi jangan lupa ajak beberapa teman duduk setia untuk menemani kita kemanapun kita pergi.

Seorang muslim pasti akan mempersiapkan masa-masa kepergiannya dengan membiasakan diri membaca. Banyak kita perhatikan di setiap kendaraan umum, apakah di bis kota, bis antar propinsi, kereta api dan yang lainnya, para penumpang hanya berdiam diri dengan cara melamun, atau mengobrol antara satu dengan yang lainnya dari sejak naik kendaraan sampai turun, atau malah tidur dengan nyenyaknya. 

Jarang sekali kita temukan di saat-saat seperti itu dimanfaatkan untuk membaca. Hanya terlihat satu atau dua orang saja. Hal ini sangat bertolak belakang dengan keadaan di negara-negara tetangga seperti Singapura yang minat baca masyarakatnya begitu tinggi mencapai angka 55% dan Jepang mencapai angka 45%.

Di Jepang sendiri, menurut pengalaman orang yang pergi ke sana, ketika memasuki Densha (kereta listrik) jangan terpana melihatnya, karena sebagian besar penumpangnya, baik anak-anak atau orang dewasa sedang membaca buku atau koran.

Lalu berapa prosentase minat baca masyarakat Indonesia?

Ternyata, Indonesia hanya memiliki 0,01%. Artinya apa? Artinya dalam 10.000 orang hanya 1 orang saja yang memiliki minat baca. Dan menurut badan PBB, UNESCO, Indonesia menempati urutan terendah di ASEAN. Bahkan sejak tahun 2008, negara kita telah kalah dari negara Vietnam dalam hal minat baca masyarakatnya. Rendahnya minat baca masyarakat Indonesia ikut menempatkan posisi Indonesia di rangking 124 dari 148 negara di dunia, dalam hal penilaian indeks pembangunan manusia. 

Pertanyaannya, mengapa kita kalah dalam budaya baca dengan masyarakat Singapura dan Jepang? 

Yang perlu dipahami bahwa budaya baca itu sebenarnya sudah dicanangkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pada 14 abad yang lalu, bahkan sejak beliau diangkat menjadi seorang Rasul dan menjadi wahyu yang pertama yang turun kepada beliau.

"Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya." (QS. al 'Alaq: 1-5).

Ayat yang mulia di atas begitu jelas memaparkan kepada kita tentang pentingnya membaca. Bahkan dalam ayat itu Allah memulai dengan perintahnya, "Bacalah". Perintah seperti ini dalam kaidah ilmu Nahwu disebut dengan Fiil 'Amr. Dan setiap perintah hukumnya adalah wajib.

Ya, wajib membaca. Kita wajib membaca, baik apa yang tersurat maupun yang tersirat. 

Dalam ayat keempat di atas Allah mengatakan,"Yang mengajar manusia dengan perantaraan kalam." Apa itu kalam? Maksudnya: Allah mengajar manusia dengan perantaraan tulis baca. Wallaahu a'lam.

Jadi dengan membaca, ada pengajaran. Banyak ilmu yang kita dapatkan. Seolah-olah dunia ada di tangan kita. Inilah kesesuaian ungkapan "Buku adalah Jendela Dunia."

Namun seorang muslim haruslah selektif dalam memilih bahan bacaannya. Tidak sembarang mengambil apa saja yang penting buku atau majalah terkenal. Tidak, tidak seperti itu. Ingat banyak sekali buku-buku atau majalah yang beredar di negeri ini yang bisa menyesatkan seseorang. Salah satunya dapat menyesatkan aqidah (keyakinan). 

Buku-buku serta majalah-majalah yang menyesatkan telah beredar luas, sungguh sangat banyak jumlahnya, ada buku atau majalah yang beridiologi komunis, sosialis, liberal, tasawuf, filsafat, dan sebagainya.

Buku-buku seperti ini harus dijauhkan sejauh-jauhnya, terlebih lagi terhadap orang-orang awam dan pemuda/i Islam yang sedang berkembang jiwanya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sendiri telah mengingatkan tentang masalah berteman ini.

"Agama seseorang tergantung agama temannya, perhatikanlah dengan siapa dia berteman." (al Hadits).

Membaca buku sebagai teman duduk dengan buku-buku yang berbahaya, maka akan sangat membahayakan si pembacanya.

Karenanya, cari teman duduk yang terbaik, dengan cara memilih buku-buku yang terbaik yang bisa menghantarkan kita menuju petunjuk Allah Jalla wa 'Alaa. Membaca adalah salah satu jalan mendapatkan ilmu. Dan yang terbaik dalam mendapatkan ilmu adalah dengan cara mendatangi langsung majlis-majlis ilmu yang bermanhaj salaf yang  banyak tersebar di wilayah nusantara ini.

Selamat membaca! Jadikan buku sebagai teman duduk yang terbaik!

al-ghurfah adh-dhoyyiqah, 20 Muharram 1434 H. Pkl. 13.25 WIB

BAHAGIANYA SEORANG GURU NGAJI


Anda seorang guru ngaji? Anda mungkin tinggal di pedesaan. Bahkan Anda mungkin tinggal di desa terpencil? Andakah guru ngaji yang tidak pernah digaji tetap? Atau Anda mendapatkan bayaran dari mengajar ngaji dengan cara mendapatkan sembako, buah-buahan atau hasil tani dan perkebunan lainnya?

Kalau Anda orangnya, tetaplah bersabar dan tetaplah ikhlas dalam mengajarkan al Qur'an kepada anak-anak yang menjadi calon-calon pemimpin yang amanah di masa yang akan datang. Jika keadaan ini tetap Anda pertahankan, maka Anda akan memperoleh kebahagiaan sepanjang hidup Anda, insya Allah.

KEBAHAGIAAN itu bukan dengan banyaknya harta. Kebahagiaan itu bukan dengan banyaknya rumah, kendaraan. Namun kebahagiaan itu dapat diperoleh dengan cara mengajarkan ilmu agama kepada orang lain. Terlebih lagi mengajarkan al Qur'an sebagai sumber dari segala sumber. Sebagai Way of life (jalan kehidupan) manusia.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Telah aku tinggalkan dua perkara yang apabila kalian berpegang teguh kepadanya, maka kalian tidak akan pernah sesat selama-lamanya, yakni Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya." (al Hadits).

Mengajarkan al Qur'an merupakan tugas mulia di sisi Allah Azza wa Jalla, bahkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menyebutnya dengan sebaik-baik manusia.

"Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar al Qur'an dan yang mengajarkannya." (HR. Bukhari)

Renungkan! Ketika seseorang mengajarkan al Qur'an kepada yang lain, dapat dikatakan dia belajar al Qur'an dari nol, artinya belum bisa sama sekali. Setelah itu, alhamdulillah Allah berikan kepadanya kemudahan, sehingga mampu membaca al Qur'an dengan tartil (sesuai dengan kaidah ilmu tajwid). Sang guru yang mengajarkannya tidak menjadi sia-sia amalannya, tetapi di sisi Allah menjadi amalan yang terus mengalir pahalanya walaupun telah meninggal dunia.

Bukankah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda!

"Apabila manusia telah meninggal, maka terputuslah amalnya, kecuali tiga perkara: shadaqah jariah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak yang shaleh yang mendo'akan." (HR. Muslim).

Contoh yang lain. Seorang guru ngaji/TPA/RA mengajarkan hafalan al Qur'an, misalnya menghapal surat al Fatihah. Guru mengajarkannya dengan makhraj dan sifat huruf yang benar dengan diikuti oleh peserta didik/santri. Alhamdulillah dengan pengulangan dan pengulangan beberapa kali, akhirnya si santri ini menjadi hafal dan mahir di dalam membacanya. 

Nah, kemahiran si santri terus terbawa hingga mukallaf (orang yang sudah terbebani kewajiban-kewajiban syari'at seperti shalat, shaum, haji dan sebagainya). Dan dia selalu membacanya dalam shalat. Sang ustadz yang mengajarkan sewaktu si santri kecil sampai bisa akan mendapatkan limpahan pahala dari Allah dengan sebab pengajarannya tersebut. Baik ketika hidup, terlebih-lebih lagi ketika sang ustadz meninggal dunia. Subhanallah.

Karenanya, janganlah putus asa! Janganlah bersedih! Tetaplah mengajar! Dan bagi yang belum mengajar, luangkan waktu untuk mengajar dinul Islam serta al Qur'an (dengan catatan sudah memahami apa yang akan diajarkan) di sela-sela kesibukan kita dalam mencari nafkah untuk keluarga. Insya Allah, kebahagiaan akan kita peroleh, baik di dunia maupun di akhirat.


Jakarta al Gharbiyyah, 20 Muharram 1434 H / 3 Desember 2012. Pkl. 22.15 wib.

DAKWAH DENGAN TULISAN


Banyak cara yang ditempuh oleh ummat Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam dalam mendakwahkan sesama manusia. Ada yang berdakwah dengan lisan ada pula dengan tulisan. Tetapi banyak ulama yang menggabungkan keduanya, yakni lisan dan tulisan.

Hasil karya ulama-ulama terdahulu dalam bentuk tulisan dapat kita nikmati dengan spesifikasi keilmuan mereka, baik di bidang aqidah, hadits, ulumul hadits, fiqh, ushul fiqh, tsaqofah islamiyyah, dan sebagainya. Semua menjadi warisan yang tidak ternilai harganya.

Kitab-kitab mereka menjadi acuan atau referensi dalam proses belajar dan mengajar, baik di ma'had-ma'had, pondok-pondok pesantren, universitas, bahkan di tingkat yang paling dasar semisal pada kajian-kajian yang diadakan di masjid, mushalla, atau majelis ta'lim.

Di antara hasil tulisan tangan para ulama besar seperti Imam Malik dengan karya fenomenalnya AL MUWATHA' dan karya lainnya. Selanjutnya Imam Syafi'i salah satu karyanya kitab AL UUM yang menjadi rujukan mazhab Syafi'i, demikian pula beliau menulis dalam bidang ushul fiqh dan yang lainnya. Sementara Imam Ahmad dengan MUSNAD-nya yang berisi hadits-hadits Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.

Sementara itu Imam Bukhari dan Muslim mencatatkan sejarah emas dalam bidang hadits, dengan menghasilkan karya terbesar sepanjang zaman dan belum ada yang bisa menandingi keduanya hingga sekarang. Dua karya besar itu adalah SHAHIH BUKHARI dan SHAHIH MUSLIM.

Belum lagi karya-karya besar lain dalam bidang hadits seperti karya Imam at- Tirmidzi, Nasa'i, Ibnu Majah, dan Abu Dawud rahimahumullah ta'ala. 

Tak luput pula karya-karya Imam besar lainnya seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Berapa banyak karya beliau? inilah pendapat para ulama tentang karyanya:
  • Ibnu Syakir al Katbiy berkata: Karya Ibnu Taimiyah telah mencapai 300 jilid.
  • Imam adz-Dzahabi berkata: Karya beliau sampai saat ini telah mencapai 500 jilid.
  • Ibnu Rajab al Hambali berkata: Karya-karya beliau begitu banyak sehingga tidak ada satupun yang mengetahui jumlahnya (dinukil dari Sholahul Ummah fii Uluwwil Himmah, 4: 172-173).
Setelahnya karya-karya emas dari murid senior Ibnu Taimiyah, Imam Ibnu Qoyyim al Jauziyyah rahimahullah yang bernilai tinggi dengan susunan kalimat yang indah dengan mempergunakan sastra Arab yang tinggi pula. Itu dituangkan pada setiap karya-karya beliau dan jumlahnya yang begitu banyak.

Subhanallah, mereka para salaful ummah telah menghasilkan karya-karya emas dengan menggunakan pena-pena yang didapat tidak dengan mudah seperti sekarang. Terkadang mereka mendapatkannya dengan cara menjual baju-baju yang mereka pakai demi alat tulis yang mereka pergunakan untuk mencatat hadits-hadits yang didapat dari masyaikh mereka.

Ini patut menjadi contoh bagi generasi sekarang. Contoh dalam hal kegigihan mereka dalam belajar, mengajar, menulis, dan berdakwah. Padahal tingkat kesulitan mereka dalam perkara-perkara tersebut jauh lebih berat ketimbang masa-masa sekarang.

Sebagai contoh dalam perkara menulis. Menulis pada zaman dahulu tidak semudah zaman sekarang. Belum ada yang namanya mesin tik atau komputer. Mereka hanya mengandalkan tangan-tangan kreatif mereka disertai dengan keilmuan yang tinggi dengan dibantu dengan pena-pena yang sederhana. Tetapi hasilnya sungguh sangat menakjubkan. Mereka mampu mengalahkan manusia-manusia pada zaman sekarang yang semuanya dapat dengan mudah memperoleh alat tulis dan juga dapat mengakses berbagai macam sumber ilmu pengetahuan melalui banyak media sebagai rujukan dalam menulis.

Hasil karya para ulama salaful ummah juga diperbanyak dengan peralatan yang sederhana bahkan belum ada yang namanya mesin cetak canggih seperti sekarang, tetapi, subhanallah, karya-karya mereka sampai ke tangan-tangan kita. Apa kuncinya keberhasilan mereka? Mereka ikhlas dalam segala perbuatan. Ikhlas dalam ibadah sampai ikhlas dalam menulis karya-karya ilmiyah.

Bagaimana dengan orang-orang sekarang? 

Ini merupakan tantangan bagi manusia-manusia yang hidup di zaman yang serba modern, era globalisasi, era informasi, era telekomunikasi dan era-era yang lainnya.

Melalui media di era ini, para ulama kontemporer dimudahkan Allah dalam menghasilkan karya-karya indah lagi bernilai tinggi dengan cara menulis melalui peralatan-peralatan canggih semisal komputer, baik off line maupun on line dan hasil karyanya dapat dinikmati manusia sedunia dalam waktu yang sangat singkat. Dan ummat ini bisa men-dowload langsung hasil karya ulama-ulama masa kini melalui situs-situs yang ada.

Semisal kita bisa membaca hasil karya ulama besar semisal Syaikh Bin Baz melalui www.ibnbaz.org.sa, Nashirudin al-Albani (www.alalbany.net), Muhammad al-Utsaimin (www.ibnothaimeen.com), Muqbil bin Hadi (www.muqbel.net), Masyhur Hasan Salman (www.mashhoor.net), Ali Hasan al-Halabi (www.alhalabi.com), dan ratusan situs-situs para ulama di abad ini.

Alhamdulillah tulisan yang dimunculkan melalui internet ini diikuti oleh para ulama setelahnya, para asatidz dan orang-orang yang konsen dalam dakwah melalui tulisan.

Karenanya, bagi para alim ulama dan orang yang berkompeten dalam spesifikasi ilmu yang dimiliki, mulailah dari sekarang menulis, menulis, dan menulis. Dakwahkan agama yang hak ini melalui media-media yang ada, baik melalui koran, majalah, buletin atau menulis langsung melalui website dan blog yang sangat variatif.

Semoga Allah menolong kita.



Minggu, 02 Desember 2012

JANGAN REMEHKAN YANG KECIL!


Menyepelakan suatu perbuatan yang kecil terkadang menjadi kebiasaan watak manusia. Banyak perbuatan yang dianggap remeh tetapi besar dalam pandangan Allah. Menyepelekan suatu amal perbuatan bukanlah sikap seorang mukmin.

Banyak sekali amalan yang dianggap ringan (sepele) oleh orang, tetapi jangan dikira itu sepele pahalanya. Di antara amalan atau perbuatan tersebut adalah:

TERSENYUM

Orang tersenyum dianggap hal yang biasa tetapi dalam Islam, inilah jawabannya.

"Senyum-mu di hadapan saudaramu merupakan shadaqah." (HR. Bukhari).

"Janganlah kamu menghinakan sedikitpun dari yang ma'ruf, walaupun kamu harus menemui saudaramu dengan wajah yang berseri." (HR. Muslim).

MEMBUANG DURI ATAU PENGHALANG DARI JALAN

Penghalang yang ada di jalan umum bermacam-macam ragamnya, ada yang dengan unsur kesengajaan misalnya dengan cara menebar paku, batu/kerikil, potongan kayu, duri di jalan. Atau dengan unsur ketidaksengajaan misalnya duri yang terbawa angin, batu yang terlempar dengan sebab terlindas kendaraan bermotor dan sebagainya. Membuang penghalang dari jalan yang terlihat tampak sepele  karena tidak membutuhkan tenaga ekstra, ternyata pahalanya, jangan ditanya!

Lihat beberapa hadits di bawah ini:

"Iman itu memiliki 7o lebih atau 60 lebih cabang, yang tertinggi adalah ucapan Laa Ilaaha Illallaah (Tidak ada ilah yang wajib untuk diibadahi dengan haq kecuali Allah) dan yang terendah adalah menghilangkan penghalang dari jalan, serta malu merupakan cabang dari keimanan." (Muttafaq 'Alaih).

Jadi, menghilangkan penghalang dari jalan merupakan cabang dari keimanan sedangkan keimanan itu suatu yang sangat asasi bagi seseorang. Bukan yang sepele, kan!

AL HAYA (MALU)

Apa pandangan Islam tentang sifat malu. Perhatikan hadits berikut!

"Malu itu seluruhnya kebaikan." (HR. Muslim)

"Malu itu tidak mendatangkan sesuatu kecuali kebaikan." (Muttafaq 'Alaih)

"Malu itu merupakan cabang dari keimanan." (Muttafaq 'Alaih).

Menurut para ulama hakekat malu adalah akhlak yang bisa membangkitkan orang untuk meninggalkan sesuatu yang qabih (jelek). 

BERDZIKIR

Berdzikir adalah amalan yang tinggi nilainya di sisi Allah Azza wa Jalla, namun masih banyak orang belum  mengetahui sehingga menganggap enteng perkara ini. Misalnya ada orang yang langsung pergi setelah menunaikan shalat fardhu, padahal tidak memiliki kepentingan apa-apa di luar sana.

Kalau saja hamba Allah ini mengetahui keutamaan dzikir setelah shalat fardhu, maka dia tidak akan pergi berlalu begitu saja meninggalkan jamaah. Apa keutamaannya? Di antaranya:

"Barangsiapa yang membaca di belakang tiap-tiap shalat (fardhu), Tasbih 33x, Tahmid 33x, dan Takbir 33x dan disempurnakan dengan kalimat: laa ilaaha illallah wahdahuu laa syariikalah lahul mulku walahul hamdu wa huwa 'ala kulli syai'in qadiir. Diampuni dosanya walaupun sebanyak buih yang ada di lautan." (HR. Muslim).

Subhanallah, itu baru satu bentuk dzikir, lalu bagaimana dengan yang lain?

Secara spesifik, Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallah memberikan penjelasan tentang keutamaan berdzikir.

"Maukah aku beritahukan kepada kalian sebaik-baiknya amal, mensucikan harta, mengangkat derajat, lebih baik dari berinfaq emas dan perak, dan lebih baik bagi kalian daripada bertemu musuh, kalian memukul leher-leher mereka dan mereka pun memukul leher-leher kalian (berjihad di jalan Allah)?" Mereka berkata, "Mau." Nabi bersabda, "Berdzikir kepada Allah" (HR. at-Tirmidzi. Berkata al Hakim Abu Abdullah: sanadnya shahih. 

Nah, bagaimana pendapat Anda? 

Begitu besarnya keutamaan dzikir itu sehingga tidak tanggung-tanggung Rasulullah menyebutkan 5 keutamaan sekaligus:
  • Sebaik-baik amal.
  • Dapat mensucikan harta benda.
  • Mengangkat derajat seseorang.
  • Lebih baik daripada berinfaq dengan emas dan perak.
  • Lebih baik dari jihad di jalan Allah.
Karenanya, mulailah berdzikir kepada Allah, karena cukup mudah untuk diucapkan. Hanya dengan bermodalkan lidah yang diberikan Allah kepada kita serta jari jemari (yang kanan) untuk menghitungnya.

"Perumpamaan orang berdzikir dengan yang tidak, seperti orang yang hidup dan yang mati." (HR. Bukhari).

"Perumpamaan rumah yang disebut nama Allah di dalamnya, dan rumah yang tidak disebut nama Allah di dalamnya, seperti yang hidup dan yang mati." (HR. Muslim) 


Jadi sungguh rugi orang tidak berdzikir kepada Allah.

Dalam beberapa riwayat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menyebutkan tentang penamaan terhadapa dzikir tertentu, di antaranya sebagai berikut:

a.   Se-afdhal-afdhalnya dzikir (bacaan Laa ilaaha illallah).
b.   Simpanan dari simpanan-simpanan surga (bacaan laa haula walaa quwwata illaa billah).
c.   Ditanamkan pohon kurma di surga (bacaan subhanallah wabihamdihi).
d.  Tanaman surga (bacaan Subhanallah, alhamdulillah, laa ilaaha illallah, allahu akbar). 

Berdzikirlah dari sekarang dan berbanggalah wahai orang-orang yang banyak berdzikir karena Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menyebut kalian dengan Mufarriduun (orang yang mengesakan Allah dengan cara mengingat Allah dan mentauhidkan-Nya).

Itulah beberapa perbuatan yang dianggap sepele oleh sebagian saudara kita yang muslim, namun ternyata tidak sama anggapan ini dihadapan Sang Pencipta, Allah Azza wa Jalla.

Sabtu, 01 Desember 2012

AYO BERDAKWAH!


Berda'wah dalam Islam hukumnya adalah fardh kifa'i (suatu kewajiban yang apabila telah dikerjakan oleh sebagian orang, maka gugurlah bagi yang lain).  Al Qur'an telah  menyebutkan tentang perintah berda'wah, di antaranya: 

"Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung." (QS. Ali Imran: 104).


äí÷Š$# 4’n<Î) È@‹Î6y™ y7În/u‘ ÏpyJõ3Ïtø:$$Î/ ÏpsàÏãöqyJø9$#ur ÏpuZ|¡ptø:$# ( Oßgø9ω»y_ur ÓÉL©9$$Î/ }‘Ïd ß`|¡ômr& 4 ¨bÎ) y7­/u‘ uqèd ÞOn=ôãr& `yJÎ/ ¨@|Ê `tã ¾Ï&Î#‹Î6y™ ( uqèdur ÞOn=ôãr& tûïωtGôgßJø9$$Î/ ÇÊËÎÈ  

"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk." (QS. an Nahl: 125).

Siapapun dapat berda'wah, asalkan harus memiliki kemampuan dan keilmuan yang dikuasainya. Ketika seseorang tidak mampu berda'wah dengan lisan atau tulisan, maka gunakan cara yang lain, misalnya dengan cara membagikan atau meminjamkan buku, majalah, buletin, brosur, cd, atau yang lainnya (semuanya berisi ilmu syar'i) kepada saudara kita. Dan alhamdulillah di era informasi ini, Allah mudahkan segalanya.


Ada satu cara lagi bagi kita untuk berda'wah di jalan Allah, yaitu dengan cara menyebarkan informasi tentang sebuah kajian seorang ustadz yang ada di daerah kita dan sekitarnya. Nah, kita bisa menanyakan langsung kepada ustadz yang dimaksud, apa temanya dan di mana tempat, serta waktu kajiannya. Atau dapat menghubungi para pengurus DKM untuk mendapatkan informasi kajian para ustadz, baik kajian mingguan atau bulanan.

Cara ini merupakan cara yang efektif bagi Thalibul Ilm (penuntut ilmu) dalam berda'wah. Ya, karena dengan cukup meng-sms-kan isi kajian kepada saudara-saudara kita yang lain, insya Allah itu akan bermanfaat bagi kita dan orang lain. Tentunya insya Allah akan mendapatkan pahala dari Allah dan ini termasuk ber-ta'awwun alal birri wat taqwa (tolong menolong dalam kebaikan dan ketakwaan).

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:

 (#qçRur$yès?ur ’n?tã ÎhŽÉ9ø9$# 3“uqø)­G9$#ur ( Ÿwur (#qçRur$yès? ’n?tã ÉOøOM}$# Èbºurô‰ãèø9$#ur 4 (#qà)¨?$#ur ©!$# ( ¨bÎ) ©!$# ߉ƒÏ‰x© É>$s)Ïèø9$# ÇËÈ  

"Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah. Sesungguhnya Allah Amat berat siksa-Nya." (QS. al Maidah:2)

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Barangsiapa yang memberikan petunjuk atas kebaikan, maka baginya pahala seperti  pelakunya." (HR. Muslim).

"Barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk, maka balasannya seperti orang yang mengikutinya dan tidak  dikurangi sedikitpun pahalanya." (HR. Muslim).

Bahkan dalam sebuah riwayat Bukhari-Muslim disebutkan, Allah akan memberikan pahala yang lebih baik dari humrun na'am (unta merah) bagi orang yang memberikan petunjuk kepada orang lain dan orang tersebut mendapat petunjuk dari Allah dengan sebab da'wah dia. 

Salah satu contoh bentuk isi kajian yang dapat kita sebarkan adalah sebagai berikut:

Bismillah, Hadirilah kajian bersama ust. Abu Usamah
dengan topik: "Manisnya Buah Kesabaran" 
Ahad/Minggu, 2 Desember 2012 jam 09.00 s/d menjelang Zuhur
di masjid Abu Bakar as Shiddiq Cileduk Tangerang.
Mohon disebarkan......!
Cp. Ikhwan..............................
Cp. Akhwat..............................

Setelah mendapatkan informasi ini, kita langsung berda'wah dengan cara mengirimkan sms kepada saudara kita yang lain, satu, dua, atau tiga orang bahkan lebih banyak, itu jauh lebih baik.

Jika kita telah memberikan informasi ini kepada yang lain dan orang-orang tersebut pergi untuk mengikuti kajian dan dengannya mereka mendapatkan petunjuk Allah, maka kita masuk bagian orang yang disebutkan Nabi dalam riwayat Bukhari-Muslim.

Lalu, bagaimana jika kita tidak bisa hadir ke tempat kajian tersebut dengan sebab ada urusan penting misalnya? Insya Allah, kita akan tetap mendapatkan pahala dan termasuk bagian dalam riwayat Muslim di atas.

Sungguh mudah dalam mendapatkan ridha dan pahala Allah Azza wa Jalla. Karenanya, bersegera dan berlombalah dalam kebaikan (fastabiqul khairat). Semoga Allah memudahkan segala urusan kita.

(