Kamis, 08 November 2012

ANDA SEORANG CAMAT


Jika berbicara jumlah profesi atau jabatan yang disandang seseorang yang ada di dunia ini, subhanallah, jumlah yang terhitung amat banyak. Tapi tahukah Anda, ada satu jabatan yang melekat di setiap orang. Ya di setiap orang, bahkan seorang bayi yang baru lahir sekalipun, dia akan menyandang jabatan ini.

Percaya atau tidak .......Ya itulah kenyataannya. Semua orang yang lahir dan merasakan kehidupan di alam dunia yang fana ini, pasti akan memperoleh jabatan ini. Apa dalilnya?

Mari kita buka surat Ali 'Imran ayat 185.


@ä. <§øÿtR èps)ͬ!#sŒ ÏNöqpRùQ$# 3 $yJ¯RÎ)ur šcöq©ùuqè? öNà2uqã_é& tPöqtƒ ÏpyJ»uŠÉ)ø9$# ( `yJsù yyÌômã Ç`tã Í$¨Y9$# Ÿ@Åz÷Šé&ur sp¨Yyfø9$# ôs)sù y$sù 3 $tBur äo4quŠyÛø9$# !$u÷R$!$# žwÎ) ßì»tFtB Írãäóø9$# ÇÊÑÎÈ  



" Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. dan Sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, Maka sungguh ia telah beruntung. kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.".

Lalu ada yang bertanya, bukankah itu ayat tentang kematian? Lalu di mana pernyataan yang mengatakan tentang jabatannya?

Ya memang, ayat ini berbicara tentang kematian. Bukan yang lain. Tapi sadarkah Anda bahwa Anda akan mengalami kematian? Bukankah kita semua ini calon-calon orang yang akan mengalami kematian? Kalau Anda setuju dengan pertanyaan-pertanyaan ini, berarti Anda berhak memperoleh jabatan itu.

Wah tambah gak ngerti nih!

Ishbir (Sabar), mahlan-mahlan (pelan-pelan), ya akhi!

Saya tanya lagi, BUKANKAH ANDA AKAN MATI? CALON MATI, KAN?

Iya kita semua calon mati, tapi mana jabatannya? CALON MATI itulah JABATANNYA.
Sudah faham? alhamdulillah. Tapi sepertinya ada yang belum nih?

CALON MATI itu adalah kependekan dari CAMAT

Baru ngerti kan? Itulah jabatan yang dimaksud.Siapapun kita, apapun profesi, jabatan, kedudukan kita saat ini, tetaplah kita akan menyandang jabatan yang satu ini, walaupun dia seorang pemulung sekalipun, tetap dia seorang CAMAT.

Kematian adalah sebuah keniscayaan. Siapapun orangnya, dia akan menemui kematian. Perkara ini banyak yang diluputkan orang. Tidakkah dia mengambil pelajaran dari orang-orang sekitar yang lebih dahulu dipanggil Allah? Tidakkan dia mendengar dari corong-corong masjid atau mushalla tentang khabar kematian seseorang? Tidakkah dia belajar dari perkara ketika menggali kubur, memandikan, mengkafani, menshalatkan, serta menguburkan seseorang?

Hari ini dia menggalikan kubur seseorang, besok atau entah kapan kubur akan digali untuknya. Hari ini dia menshalatkan seseorang, suatu saat dia akan dishalatkan. Hari ini dia menggotong mayat, lusa dia akan digotong mayatnya. Begitu seterusnya.

Ada sebuah kisah tentang seorang pedagang kain kapan dan perlengkapannya yang sedang membereskan barang dagangannya. Di tengah kesibukannya, datanglah seorang pemuda sambil bertanya, "Sedang apa Pak?" Oh, saya sedang membereskan barang dagangan nih, siapa tahu ada yang datang untuk membelinya!"

Di sore harinya, ada yang datang untuk membeli barang dagangannya. Ternyata kain kapan tersebut dibeli untuk diri si pemuda yang tadi pagi datang dan bercakap-cakap dengannya. Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un.

Kita tidak akan tahu kapan diri kita akan menghadap Alllah. Kematian adalah rahasia di antara rahasia Allah. Kita-pun tidak akan tahu di bumi mana kita akan mati.

Karenanya kita perlu bekal. Bekal yang terbaik adalah TAKWA

" Berbekallah, karena sebaik-baik bekal adalah takwa" (QS. al Baqarah : 197)

Abu Bakar as Shiddiq pernah berkata:

" Barangsiapa masuk kubur tanpa bekal, seperti orang yang mengarungi lautan tanpa kapal".

Wahai PARA CAMAT, bersiap-siaplah menuju kematian. Perkara yang begitu besar, sampai-sampai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berpesan:

" Perbanyaklah dari mengingat pemutus kelezatan (yakni kematian)".

Jadi memperbanyak kematian itu suatu keharusan. Karena ini perkara yang datangnya tiba-tiba kepada kita, tanpa pemberitahuan sebelumnya.

Wahai PARA CAMAT ingatlah khabar berikut:

Di sebuah rumah ada seekor semut yang mengumpulkan biji-bijian di musim kemarau dan memakannya di musim penghujan. Di suatu hari di saat semut membawa butiran bijian di mulutnya, datanglah seekor burung Pipit lalu mematuknya beserta biji-bijian yang ia kumpulkan dan semua yang ia harapkan pun kandas.

Begitu juga dengan kehidupan manusia, tatkala ia mengumpulkan harta, tibalah ajalnya menjemput dirinya dan segala yang ia kumpulkan. Dia berharap bahwa dunia akan kekal, namun ajal lebih dulu datang dan harapanpun melayang. Begitupun belenggu memasung kaki gajah, gajah tetap hidup namun kakinya telah mati.

Beramal shaleh-lah sebanyak mungkin, diiringi dengan do'a dan tetaplah selalu berdo'a kepada Allah agar diwafatkan dalam keadaan memeluk dinul haq, agama Islam. Mati dalam keadaan husnul khatimah.


" Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam Keadaan beragama Islam."
 ( QS. Ali 'Imran: 102)



Rabu, 07 November 2012

KETURUNAN SIAPA?

Suatu hari penulis terperangah ketika diberitahu bahwa si A (inisial) bukan anak kandungnya D. Terperangah sekaligus kaget karena di Akte Kelahiran tercatat si A adalah anak kandung pasangan B dan C. Ternyata di lapangan, fakta berbicara lain.

Kasus seperti ini penulis temukan dan terjadi di RA/TK yang penulis kelola sendiri sejak tahun 2005 s.d. 2012 (tercatat ada tiga kasus).


Sementara itu, di kesempatan dan tempat yang lain penulis menemukan satu kasus. Sang anak yang telah ditinggal mati oleh ibunya sedangkan ayah kandungnya masih dalam keadaan hidup namun ketika dibuatkan Akte Kelahirannya, justeru bukan atas nama ayah kandungnya yang tertulis di sana tapi nama kakeknya (bapak dari ibu kandungnya). subhanallah. 


Permasalahannya ternyata sudah masuk ke ranah hukum, baik hukum Islam maupun positif negara.

Ketika seseorang telah resmi membuat pencatatan kelahiran di kantor Catatan Sipil, maka data yang akan tercatat di Akte Kelahiran sesuai dengan data pada saat awal pembuatan. Jadi kalau yang dilaporkan, umpama si A anak kandung si fulan dan fulanah, maka itulah nama-nama yang akan tertera di Akte Kelahiran. Walaupun kenyataannya tidak. 


Bagaimana Islam memandang hal ini?


Untuk menjawab pertanyaan ini, coba perhatikan ayat-ayat al Qur'an beserta tafsirnya dan hadits yang mulia ini.


Firman Allah Ta'ala:



" Dan Dia tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri). yang demikian itu hanyalah perkataanmu dimulutmu saja. dan Allah mengatakan yang sebenarnya dan Dia menunjukkan jalan (yang benar). (QS. al Ahzab: 4)

Imam Ibnu Katsir berkata, “Sesungguhnya ayat ini turun (untuk menjelaskan) keadaan Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhu, bekas budak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebelum diangkat sebagai Nabi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkatnya sebagai anak, sampai-sampai dia dipanggil “Zaid bin Muhammad” (Zaid putranya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam), maka Allah Ta’ala ingin memutuskan pengangkatan anak ini dan penisbatannya (kepada selain ayah kandungnya) dalam ayat ini, sebagaimana juga firman-Nya di pertengahan surah al-Ahzaab,

Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup para nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” (QS al-Ahzaab: 40).

" Panggilah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; Itulah yang lebih adil pada sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, Maka (panggilah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu[1199]. dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang ". (QS. al Ahzab: 5)

Imam Ibnu Katsir berkata, “(Ayat) ini (berisi) perintah (Allah Ta’ala) yang menghapuskan perkara yang diperbolehkan di awal Islam, yaitu mengakui sebagai anak (terhadap) orang yang bukan anak kandung, yaitu anak angkat. Maka (dalam ayat ini) Allah Ta’ala memerintahkan untuk mengembalikan penisbatan mereka kepada ayah mereka yang sebenarnya (ayah kandung), dan inilah (sikap) adil dan tidak berat sebelah”.

Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:


"Tidak seorangpun mengakui (membangsakan diri) kepada bukan ayah yang sebenarnya, sedang ia tahu bahwa itu bukan ayahnya, melainkan ia telah kufur." (HR. Bukhari dan Muslim)

" Barangsiapa mengaku (bernasab) kepada selain ayahnya sedang ia mengetahui, maka haram baginya surga (HR. Bukhari, lihat Fathul Bari, 8/45)

" Perempuan manapun yang menggolongkan (seorang anak) kepada suatu kaum, padahal dia bukan dari golongan mereka, maka Allah berlepas diri darinya dan tidak akan memasukkannya ke dalam surga. Dan siapa dari laki-laki yang mengingkari anaknya padahal dia melihatnya (sebagai anaknya yang sah) maka Allah akan menutup diri daripadanya dan akan mempermalukannya di hadapan para pemimpin orang-orang terdahulu dan orang-orang kemudian".
(HR. Abu Daud, 2/695, lihat misykatul mashabih, 3316). 


“Barangsiapa yang disebut bukan kepada bapaknya atau berafiliasi bukan kepada walinya, maka baginya laknat Allah yang berkelanjutan” [H.R Abu Daud]


SEJARAH DAN HUKUM MENGADOPSI ANAK 

Adopsi anak sudah dikenal sejak zaman jahiliyah sebelum ada risalah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dahulu anak adopsi dinasabkan kepada ayah angkatnya, bisa menerima waris, dapat menyendiri dengan anak serta istrinya, dan istri anak adopsi haram bagi ayah angkatnya (pengadopsi). Secara umum anak adopsi layaknya anak kandung dalam segala urusan. Nabi pernah mengadopsi Zaid bin Haritsah bin Syarahil Al-Kalbi sebelum beliau menjadi Rasul, sehingga dipanggil dengan nama Zaid bin Muhammad. Tradisi ini berlanjut dari zaman jahiliyah hingga tahun ketiga atau keempat Hijriyah.


FATWA MUI TENTANG HUKUM MENGADOPSI ANAK

" Tidak diragukan lagi bahwa usaha semacam ini merupakan perbuatan yang terpuji dan dianjurkan oleh agama serta diberi pahala."

Melalui fatwanya MUI mengharapkan supaya adopsi dilakukan atas rasa tanggung jawab sosial untuk memelihara, mengasuh, dan mendidik anak dengan penuh kasih sayang , seperti anak sendiri. Ini adalah perbuatan yang terpuji dan termasuk amal shaleh.


STATUS ANAK ANGKAT DALAM ISLAM


1. Dilarang menisbatkan anak angkat kepada selain ayah kandungnya, berdasarkan firman Allah Ta’ala,

Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak (kandung) mereka; itulah yang lebih adil di sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggilah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu Dan tidak ada dosa bagimu terhadap apa yang kamu salah padanya, tetapi (yang ada dosanya adalah) apa yang disengaja oleh hatimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS al-Ahzaab: 5).

Imam Ibnu Katsir berkata, “(Ayat) ini (berisi) perintah (Allah Ta’ala) yang menghapuskan perkara yang diperbolehkan di awal Islam, yaitu mengakui sebagai anak (terhadap) orang yang bukan anak kandung, yaitu anak angkat. Maka (dalam ayat ini) Allah Ta’ala memerintahkan untuk mengembalikan penisbatan mereka kepada ayah mereka yang sebenarnya (ayah kandung), dan inilah (sikap) adil dan tidak berat sebelah”.

2. Anak angkat tidak berhak mendapatkan warisan dari orang tua angkatnya, berbeda dengan kebiasaan di jaman Jahiliyah yang menganggap anak angkat seperti anak kandung yang berhak mendapatkan warisan ketika orang tua angkatnya meninggal dunia.

3. Anak angkat bukanlah mahram, sehingga wajib bagi orang tua angkatnya maupun anak-anak kandung mereka untuk memakai hijab yang menutupi aurat di depan anak angkat tersebut, sebagaimana ketika mereka di depan orang lain yang bukan mahram, berbeda dengan kebiasaan di masa Jahiliyah. 

4. Diperbolehkannya bagi bapak angkat untuk menikahi bekas istri anak angkatnya, berbeda dengan kebiasaan di jaman Jahiliyah. 

Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan nikmat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi nikmat kepadanya: “Tahanlah terus isterimu dan bertaqwalah kepada Allah”, sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti. Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap isterinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mu’min untuk (mengawini) isteri-isteri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada isterinya (menceraikannya). Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi” (QS al-Ahzaab: 37).


Catatan akhir: 

Keturunan siapa seharusnya anak angkat? Anak angkat harus dinisbatkan kepada ayah kandungnya sendiri. Ya, ayah kandungnya sendiri. Bukan dengan ayah angkatnya. Walaupun ayah angkatnya telah merawat, mengasuh, membesarkannya sejak bayi, mendidik, bahkan sampai usia dewasa hingga si anak berumah tangga sekalipun. Ayah angkat tetaplah ayah angkat & dia adalah orang lain. 

Bagi siapapun yang telah mengangkat seorang anak menjadi anak angkatnya, hindari dari membuatkan Akte Kelahiran dengan mencantumkan nama dirinya di akte tersebut yang menyatakan bahwa dirinya adalah ayah kandung dari anak yang diangkatnya.

Siapapun yang telah membuatkan akte kelahiran anak dan menisbatkan dirinya sebagai ayah kandungnya padahal bukan, maka  bertaubatlah kepada Allah Ta'ala. Ganti nama ayah angkatnya dengan nama ayah kandungnya. Hindari murka Allah. Hindari kemarahan Allah. Karena ini termasuk dosa besar yang dianggap kecil oleh sebagian orang dan dianggap biasa melakukannya. Lihatlah perintah Allah dan ancaman Rasul-Nya sebagaimana tertera pada pembahasan di atas. Insya Allah usaha Anda dalam membantu saudara sesama muslim akan diberikan pahala yang besar di sisi Allah.











Selasa, 06 November 2012

KHABAR GEMBIRA BAGI PEROKOK !

Apakah Anda Perokok?

Apakah Anda Perokok Mania?

Apakah Anda Pemain Baru dalam 

dunia rokok?

Jika Anda menjawabnya ya, maka Anda berhak mendapatkan khabar gembira ini. Ya, sekali lagi khabar gembira.

Coba simak sebuah kisah yang terdapat dalam hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari & Muslim ini. Ada seseorang yang telah membunuh 100 orang. Kira-kira apa yang ada di benak Anda ? Mungkin Anda akan mengatakan, " Sadis nih orang, pembunuh berdarah dingin kali? The Killer man ", atau sebutan-sebutan  lainnya.

Pada suatu saat dia bertemu dengan orang yang 'Alim (berilmu) setelah membunuh orang yang ke-100. Dia bertanya, " Saya telah membunuh 100 orang, masih adakah taubat bagi saya?" si 'Alim ini pun menjawab, " Siapa yang dapat menghalangi antara dirinya dan taubat?" Tapi dengan syarat kamu harus pindah dari bumi (kampung) yang lama ke kampung yang di sana orang-orang menyembah Allah. Maka sembahlah Allah bersama mereka. Jangan kembali ke kampung yang lama, karena yang lama, kampung yang jelek ". Berangkatlah ia, namun di pertengahan jalan maut mendatanginya.

Berselisihlah Malaikat Rahmah dan Malaikat Azab. Malaikat Rahmah berkata, " Dia datang dalam keadaan bertaubat, menghadap dengan hatinya kepada  Allah Ta'ala." Malaikat Azab berkata, "Sesungguhnya dia belum berbuat kebaikan sedikitpun."

Maka datanglah malaikat dalam bentuk rupa manusia. Dia menjadi hakim (penengah) di antara keduanya. " Ukurlah di antara dua bumi, mana yang lebih dekat kepadanya ". Maka keduanya mendapati si hamba tadi dekat kepada kampung yang dituju. Malaikat Rahmah mengambilnya.

Apa hubungannya kisah dalam hadits tadi dengan khabar gembira bagi para perokok ?

Jelas ada, erat sekali hubungannya.

Kalau ada yang mengatakan Anda ini seorang pembunuh setuju tidak ? Pasti jawaban Anda, TIDAK SETUJU! Saya ini orang baik-baik kok. Saya tidak pernah membunuh. Jangankan membunuh 100 jiwa seperti dalam hadits di atas, satu saja tidak.

Camkan ini! 

Ketahuilah dengan merokok Anda perlahan-lahan sedang membunuh jiwa Anda. Sementara membunuh jiwa itu haram hukumnya dalam Islam dan termasuk dosa yang besar.

" .........Dan janganlah kamu membunuh dirimu...." (QS.an Nisa: 29)

" dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri dalam kebinasaan (janganlah kamu berbuat kebinasaan)...." (QS. al Baqarah: 195).

Nabi Muhammad bersabda: " Barangsiapa yang membunuh dirinya dengan sesuatu (benda), maka dengannya pula ia akan disiksa kelak di hari kiamat" (HR. Muslim)

Ya, memang Anda tidak membunuh orang lain secara langsung, tapi sadar tidak, Anda sedang menzhalimi atau menyakiti orang lain. Dengan kepulan asap rokok Anda, orang lain akan terkena:

  • Meningkatnya risiko kanker paru-paru dan penyakit jantung. 
  • Masalah pernapasan termasuk radang paru-paru dan bronkitis. 
  • Sakit atau pedih mata
  • Bersin dan batuk-batuk
  • Sakit kerongkongan dan sakit kepala.

INI ADALAH KEZHALIMAN & KEZHALIMAN ITU TERMASUK DOSA BESAR.

Nabi bersabda: Tidak boleh melakukan perbuatan yang membuat mudharat bagi orang lain, baik permulaan ataupun balasan" (HR.Ibnu Majah)

" Seorang muslim (yang baik) yaitu apabila orang-orang muslim (lainnya) merasa aman dari kejahatan lidah dan tangannya (perbuatannya) " (HR. Bukhari Muslim)

Coba renungkan!

Berapa orang yang Anda sakiti setiap hari ????? Oh, tidak! Saya tidak menyakiti orang.

Berapa banyak orang yang ada di sekeliling Anda sementara Anda sedang asiknya merokok ? Apakah semua yang ada di situ setuju dengan aktifitas Anda.

Saat Anda merokok di suatu tempat, bisa jadi di sana ada anak-anak, orang tua, wanita, bahkan ada wanita yang sedang hamil bukan? Ada yang terbatuk-batuk dari asap rokok Anda. Ada yang hanya menutup hidungnya. Ada yang cemberut sambil menggerutu.

Itulah bentuk-bentuk KEZHALIMAN. SADARKAH ANDA ?????

Dan maukah Anda nanti di akhirat akan didatangi oleh orang-orang yang terzhalimi tersebut? Untuk apa? Ya menuntut balas atas kezhaliman Anda kepada mereka ketika di dunia. Berapa banyak yang datang? Tergantung berapa banyak Anda menzhalimi mereka.

Hitungan mudahnya seperti ini (perhatikan!)

Kalau ada 10 orang saja setiap hari yang menghirup rokok Anda, maka sebulan sudah menjadi 300 orang. Jika dikalikan setahun, maka 300 orang X 12 = 3.600 orang. Andaikan Anda telah merokok selama 30 tahun. Jumlahnya menjadi 3.600 orang X 30 tahun merokok = 108.000 orang. Jumlah yang FANTASTIS! sekali lagi SUNGGUH FANTASTIS!

Bayangkan 108.000 orang mendatangi Anda di akhirat untuk menuntut Anda. Mengambil pahala Anda. Jika habis pahala Anda, dosa-dosa mereka akan ditimpakan kepada Anda. Anda sanggup? Ini baru dari kasus ROKOK. Bagaimana kalau Anda menzhalimi orang lain dengan kasus yang berbeda. Bertambah lagi beban Anda. Subahanallah! Inilah orang yang muflis (bangkrut) sebagaimana yang dikhabarkan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.

Mana khabar gembiranya ?????

Inilah khabar gembira itu..............


                                                       MAKLUMAT


                                 Diberitahukan kepada seluruh PEROKOK di dunia :

                           PINTU TAUBAT MASIH TERBUKA LEBAR-LEBAR UNTUK ANDA. 

                    KETUKLAH PINTU ALLAH, NISCAYA ALLAH SELALU MEMBUKAKANNYA. 

      MOHON AMPUNLAH DARI DOSA, SEBESAR APAPUN DOSA ITU, ALLAH AKAN AMPUNI.

               BERTAUBATLAH DARI MEROKOK SEBELUM NYAWA SAMPAI DI TENGGOROKAN.

                              BERTAUBATLAH SEBELUM MATAHARI TERBIT DARI BARAT.

                          INGATLAH! ALLAH MAHA PENGAMPUN LAGI MAHA PENYAYANG.





Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. az Zumar: 53)



Lalu jika ada yang mau bertaubat dari dosa merokok, bagaimana caranya?

Imam Nawawi rahimahullah Ta'ala mengatakan bahwa syarat taubat itu ada 3 (tiga) macam:

1. Meninggalkan maksiat atau dosa yang dilakukan. STOP dan TINGGALKAN ROKOK!

2. Menyesal atas perbuatan dosa itu. SESALILAH PERBUATAN MEROKOK!

3. Memiliki niat yang kuat untuk tidak kembali lagi selama-lamanya.

    JANGAN KEMBALI MEROKOK! karena itu petaka bagi Anda!
 

Saya mau sungguh-sungguh meninggalkan rokok, lalu apa langkah saya selanjutnya agar tidak kembali lagi merokok ?


Ikutilah tips berikut ini:


1. Yakinkan Diri Anda Sendiri
Membekali diri dengan kayakinan dan tekad yang kuat untuk berhenti merokok adalah modal utama yang harus Anda miliki. Berhenti merokok lebih dari sekedar mengucapkannya dengan perkataan, lebih dari itu, yakinkan diri Anda untuk benar-benar kuat dalam melalui hambatan dan godaan selama proses berhenti merokok.


2. Kurangi Secara Berkala
Kebiasaan yang sudah Anda lakukan bertahun-tahun tentunya akan sulit jika dihentikan secara mendadak. Nah, untuk mengatasinya, sebaiknya kurangi batang rokok yang Anda isap setiap hari. Jika sebelumnya Anda menghabiskan 3-4 batang rokok, Anda bisa kurangi secara bertahap menjadi 1-2 batang saja per hari, hingga Anda benar-benar tidak mengisap sama sekali.


3. Kenali Saat Dimana Anda Sering Merokok
Temukan saat-saat di mana Anda paling sering merokok, dan temukan pula solusi untuk menghindari saat-saat tersebut. Misalnya, seseorang akan cenderung merokok saat pikiran suntuk dan stres. Bila demikian, lebih baik hindari keinginan merokok dengan melakukan aktivitas lain yang dapat mengalihkan perhatian Anda dari kebiasaan merokok, contohnya berolahraga.


4. Makanlah Secara Teratur
Bagi para perokok, terkadang rasa lapar sering disalah artikan sebagai keinginan untuk merokok. Nah, untuk menghindari hal ini, makanlah secara teratur. Mengkonsumsi makanan tinggi nutrisi seperti sayuran dan buah-buahan akan membantu Anda mengurangi keinginan untuk merokok.
 


5. Rajinlah Berolahraga
Berolahraga seperti jalan kaki dan
 jogging setiap hari akan meningkatkan mood dan kesegaran serta meningkatkan energi Anda. Berjalan juga menjadi cara yang baik untuk menghilangkan stres jauh lebih baik dari merokok. 


6. Tahan Keinginan Anda
Setiap Anda merasakan dorongan untuk merokok, tunggulah 5 menit sebelum Anda menyalakannya. Di hari berikutnya perpanjang menjadi 10 menit begitu seterusnya. Dengan cara ini tubuh Anda akan menyadari bahwa dorongan untuk merokok semakin lama akan menghilang secara perlahan-lahan.



Intinya cara berhenti merokok yang paling mudah dan efektif bersumber pada diri Anda sendiri.Sekuat apa keinginan dan niat itu ada di dalam diri Anda. Jika ingin hasil yang positif, usaha juga harus positif dan tetap disiplin. Mulailah hidup sehat dengan berhenti merokok hari ini!



Akhirnya, bertawakallah kepada Allah, niscaya Allah akan 

mencukupinya.