Kamis, 22 November 2012

PERTAHANKAN SUNNAH WALAUPUN CACIAN MENERJANG


Melaksanakan sunnah di akhir zaman ini sungguh sangat berat. Bahkan dalam pelaksanaannya tidak sedikit yang mendapatkan intimidasi dari saudara-saudara kita sesama muslim yang boleh kita katakan mereka kebanyakan belum mengetahui.
Sementara subhat-subhat setiap saat berkeliaraan di lingkungan pengajian atau obrolan mereka sehingga memotivasi mereka untuk mengucilkan Ahlus Sunnah.

Melaksanakan sunnah di era globalisasi ini termasuk orang-orang yang beruntung. Sungguh sangat beruntung. Mengapa dikatakan beruntung? Inilah jawabannya:

Rasulullah shallalahu alaihi wa sallam bersabda:

"Islam itu pada awalnya ajaran yang asing, dan nantinya ia akan kembali menjadi asing sebagaimana awalnya, maka beruntunglah orang-orang yang asing itu." (HR. Muslim no. 145)

Di antara sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang begitu asing yang diterapkan di tengah-tengah masyarakat adalah memelihari serta memanjangkan jenggot.

Bagaimana pandangan Islam terhadap orang yang memelihara jenggot?

Lihatlah sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam ini:

"Selisihilah kaum musyrikin, biarkan jenggot panjang, dan potonglah kumis kalian." (HR. Bukhari no. 5892)

"Potong tipislah kumis, dan biarkanlah jenggot kalian." (HR. Bukhari no. 5893).

"Potonglah kumis kalian, biarkanlah jenggot, dan selisilah kaum Majusi." (HR. Muslim no. 260).

Ibnu Umar radiyallahu anhu mengatakan: "Sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan untuk memangkas tipis kumis dan membiarkan jenggot panjang." (HR. Muslim no. 259).

Itulah beberapa nash-nash hadits tentang perintah berjenggot. Dalam kaidah Ushul Fiqh dikatak, "Setiap perintah dalam nash-nash syariat itu menunjukkan suatu kewajiban, dan haram bagi kita menyelisinya, kecuali ada dalil khusus yang merubahnya menjadi tidak wajib." 

Jadi hukum berjenggot itu wajib berdasarkan nash-nash yang shahih lagi sharih.

Namun demikian karena ketidaktahuan sebagian saudara kita sesama muslim, hingga akhirnya mereka mengejek saudaranya, yang sebenarnya kalau difahami, sebenarnya itu sama saja dengan mengejek ajaran agamanya.

Banyak ejekan-ejekan yang dilayangkan kepada saudara kita yang berjenggot dengan berbagai julukan seperti si Kambing, si Jenggot atau yang lainnya. Hal itu pernah dialami oleh Haji Agus Salim, seorang tokoh nasional Indonesia.

Ada satu kisah menarik yang terjadi antara Sjahrir dan Haji Agus Salim (tokoh yang terkenal memiliki jenggot). Peristiwa ini terjadi sebelum kemerdekaan.

Inilah penuturan Sjahrir:

"Kami, sekelompok besar pemuda, bersama-sama mendatangi rapat di mana Pak Salim akan berpidato dengan maksud mengacaukan pertemuan itu. Pada waktu itu Pak Salim telah berjanggut kambing yang terkenal itu, dan setiap kalimat yang diucapkan pak haji disambut oleh kami dengan mengembik yang dilakukan bersama-sama. Setelah untuk ketiga kalinya kami menyahut dengan, "Me, me, me", maka Pak Salim mengangkat tangannya seraya berkata, "Tunggu sebentar. Bagi saya itu suatu hal yang sangat menyenangkan bahwa kambing-kambing pun telah mendatangi ruangan ini untuk mendengarkan pidato saya. Hanya sayang sekali bahwa mereka kurang mengerti bahasa manusia sehingga mereka menyela dengan cara yang kurang pantas. Jadi saya sarankan agar untuk sementara mereka tinggalkan ruangan ini untuk sekedar makan rumput di lapangan. Sesudah pidato saya ini yang ditujukan kepada manusia selesai, mereka akan dipersilakan masuk kembali dan saya akan berpidato dalam bahasa kambing khusus untuk mereka. Karena di dalam agama Islam bagi kambing pun ada amanatnya dan saya menguasai banyak bahasa." (Lihat  Buku Seratus Tahun Haji Agus Salim. Penerbit Pustaka Sinar Harapan, Jakarta 1996, hal: 110-111).

Sejak saat itu Sjahrir dan teman-temannya tidak lagi mencoba untuk mencemoohkannya.

Bagaimana gambaran jenggotnya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, para Nabi serta para salafus shalih?  


1. Jenggotnya Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam.

Jabir bin Samurah berkata: Rasulullah dulu telah muncul sedikit uban di bagian depan rambut kepala dan jenggotnya. Jika beliau meminyaki rambutnya, uban itu tidak tampak, tetapi jika rambutnya kering, uban itu tampak. Dan beliau adalah seorang yang banyak rambut jenggotnya. (HR. Muslim)

Ali radhiyallah anhu berkata: Rasulullah adalah seorang yang besar jenggotnya (HR. Ahmad)

Dalam riwayat lain: Rasulullah adalah seorang yang lebat jenggotnya. (HR.Ahmad)

Dan masih banyak riwayat lain yang menyebutkan bahwa Nabi kita memiliki jenggot yang besar lagi lebat.

2. Gambaran jenggotnya para Nabi alaihimus salam. 

Raja Hiraql memperlihatkan gambar wajah para Nabi di atas potongan kain sutra dengan menyebutkan sifat-sifat mereka. Nabi Nuh jenggotnya bagus, Nabi Ibrahim jenggotnya putih, Nabi Ishak tipis jenggot bagian sampinganya, Nabi ya'qub mirip dengan ayahnya, Nabi Ishaq, dan Nabi Isa alaihis salam jenggotnya sangat hitam. (Tafsir Ibnu katsir 3/484. Beliau mengatakan: "Sanadnya la ba'sa bih").

Sementara jenggotnya Nabi Harun digambarkan Al Qur'an:

"Wahai putra ibuku, jangan kau tarik (rambut) jenggotku dan kepalaku." QS. Thoha: 94)

Dalil ini sangat jelas bahwa Nabi Harun dahulu memiliki jenggot yang panjang.

3. Jenggotnya Salafus Shaleh (Khulafa' Rasyidin)

Disebutkan bahwa jenggotnya Abu Bakar itu bagian sampingnya tipis, Umar bagian pinggir jenggotnya tipis, dan tebal bagian depannya. Sementara itu Utsman adalah seorang yang jenggotnya besar, panjang lagi tampan orangnya. Sedangkan Ali adalah seorang sahabat yang banyak rambutnya dan besar jenggotnya. (Riwayat-riwayat ini dapat dilihat pada kitab al-Khulafa ar-Rasyidun karya adz Zahabi, Tarikhul Khulafa karya as Suyuthi, ath thabaqat al Kubra, dan ash shofwatush Shofwah karya Ibnul Jauzi).

Inilah contoh para sahabat pilhan dalam mengamalkan sunnah. Sementara Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah bersabda:

"Ambilah tuntunanku dan tuntunan khulafa'  rasyidin yang mendapat petunjuk setelahku. Gigitlah tuntunan-tuntunan itu dengan gigi-gigi geraham kalian!"

Bagaimana sikap kita dalam menghadapi cacian atau hinaan terhadap sunnah Nabi ini?

Kalaupun ada ejekan, hinaan, serta makian terhadap diri kita, itu adalah sunnatullah. Ujian bagi keimanan kita. Bukankah Allah mengatakan dalam Al Qur'an surat al Ankabut ayat 2&3?


|=Å¡ymr& â¨$¨Z9$# br& (#þqä.uŽøIムbr& (#þqä9qà)tƒ $¨YtB#uä öNèdur Ÿw tbqãZtFøÿムÇËÈ  

"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?"

ôs)s9ur $¨ZtFsù tûïÏ%©!$# `ÏB öNÎgÎ=ö6s% ( £`yJn=÷èun=sù ª!$# šúïÏ%©!$# (#qè%y|¹ £`yJn=÷èus9ur tûüÎ/É»s3ø9$# ÇÌÈ  

"Dan Sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta."

Bukankah Rasulullah sang pembawa wahyu pun pernah diintimidasi, dihina, dicaci, bahkan diberikan julukan-julukan buruk seperti tukang sihir, orang gila, dan sebagainya?

Kisah Haji Agus Salim di atas juga memberikan pelajaran berarti bagi kita dalam menghadapi permasalahan ini.Itulah jawaban diplomatis sang tokoh, Haji Agus Salim ini ketika menerima ejekan. 
Bagaimana dengan kita? Ketika kita belum sanggup menyampaikan hujjah berupa dalil-dalil kewajiban memanjang jenggot, alangkah baiknya kita jangan terpancing emosi. Ejekan, cibiran itu insya Allah akan berlalu. Sikap kita adalah sabar. Namun ketika ada kesempatan memberikan nasihat, lakukanlah dengan lemah lembut, dengan bahasa yang sopan lagi dimengerti. Jika kita tidak mampu memberikan pemahaman melalui lisan, berikan atau minimal pinjamkan kepada mereka buku, majalah, buletin, atau CD tentang pembahasan jenggot dan seluk beluknya.

Memelihara jenggot bukan hanya mengikuti sunnah semata, tetapi hakekatnya kita itu sedang berdakwah. Tidak bisa berdakwah dengan lisan, maka dengan cara yang lain, bil hal (keadaan).

Terkadang dakwah bil hal lebih mengena ketimbang bil lisan. Masyarakat itu lebih melihat perilaku bukan omongan seseorang.

Memang ketika awal melaksanakan sunnah ini, terasa berat. Kita melihat sepanjang jalan, mata memperhatikan kita. Di awal mungkin ada yang membicarakan dan memandang kita. Apakah itu sehari, seminggu atau sebulan? Namun lambat laun, ketika mereka sudah kenal dengan kita dan kita pun sering bermuamalah dengan mereka, maka yang tadinya asing, maka akan menjadi terbiasa.

Tetaplah mengamalkan sunnah walaupun rintangan datang silih berganti, baik yang datangnya dari keluarga; ayah, ibu, suami atau isteri, kerabat, teman sejawat, dan lingkungan tempat tinggal. Tidak inginkah kita termasuk golongan yang disebut dalam hadits di atas? Thuba lil ghuraba.








Senin, 19 November 2012

MAU PAHALA HAJI & UMRAH YANG SEMPURNA?


Selamat bagi Anda atau keluarga Anda yang telah menunaikan Rukun Islam yang kelima tahun ini. Semoga Allah memberikan haji yang mabrur dan memberikan pahala yang besar bagi Anda dan keluarga yang menunaikannya.


Sungguh benar apa yang disabdakan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam!

"Umrah ke umrah adalah penghapus dosa antara keduanya, dan haji yang mabrur tidak mempunyai pahala selain surga." (HR. Bukhari Muslim).

"Barangsiapa yang melakukan haji tanpa berbuat keji dan tidak fasiq, maka ia kembali tidak berdosa sebagaimana waktu ia dilahirkan oleh ibunya." (HR. Muttafaq 'Alaih).


Subhanallah, betapa besarnya pahala orang yang berhaji dan umrah.  Sungguh beruntung orang yang pernah menunaikannya dengan mengambil manasiknya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.

Tapi bagaimana dengan saudara-saudara kita yang lain yang belum pernah mengecap manisnya beribadah ke Baitulllah? Sementara ongkos naik haji dari tahun ke tahun terus mengalami kenaikan, sedangkan jika mendaftar sekarang, maka akan menunggu hingga beberapa tahun kemudian.

Yang perlu dipahami bahwa ibadah haji adalah ibadah yang hukumnya wajib bagi orang yang mampu. Khususnya mampu atau sanggup dalam urusan finansial (keuangan)-nya,  sanggup mendapatkan perbekalan dan alat-alat pengangkutan serta sehat jasmani dan perjalanan pun aman.

Jadi, tidaklah berdosa bagi orang yang belum mampu untuk melaksanakan ibadah yang agung ini. Karena Allah memberikan rizki yang berbeda-beda kepada setiap hamba-Nya.

Allah berfirman:

3    ¬!ur n?tã Ĩ$¨Z9$# kÏm ÏMøt7ø9$# Ç`tB tí$sÜtGó$# Ïmøs9Î) WxÎ6y 4 


"Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup Mengadakan perjalanan ke Baitullah." (QS. Ali Imran: 97)

Bagi yang belum sanggup, jangan khawatir! Ada alternatif lain yang diberikan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

"Barangsiapa melakukan shalat Shubuh secara berjamaah, kemudian duduk dan berdzikir kepada Allah hingga terbit matahari, kemudian dia shalat dua rakaat, ia akan memperoleh pahala ibadah haji dan umrah, sempurna, sempurna, dan sempurna." (HR. at-Tirmidzi, dihasankan oleh al-Albani dan Syaikh Ibnu Baz karena banyak jalannya).

Dalam hadits yang shahih diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam apabila telah melakukan shalat Shubuh beliau duduk berdzikir di tempat shalatnya hingga matahari benar-benar terbit (HR. Muslim)

Itulah yang alternatif atau solusi terbaik yang diberikan Rasul shallallahu 'alaihi wasallam kepada ummatnya yang belum sanggup menunaikan ibadah haji dan umrah ke Baitullah.

Bayangkan! Pahalanya haji dan umrah, sempurna, sempurna, dan sempurna. Subhanallah.

Jadi yang perlu dilakukan seorang hamba jika ingin mendapatkan pahala seperti keterangan Nabi di atas adalah dengan cara:
  • Shalat Shubuh dengan berjamaah.Tentunya berjamaah itu di masjid. Bukan di rumah dan tidak dikerjakan sendiri-sendiri.
  • Setelah itu berdzikir kepada Allah. Dalam hal ini Rasulullah tidak menetapkan harus membaca dzikir tertentu, tetapi ingat berdzikir tentunya yang sesuai dengan perintah Rasul, bukan dzikir yang diada-adakan dan juga tidak berjamaah. Di antara dzikir itu adalah dengan membaca Al Qur'an, karena itu yang terbaik.
  • Shalat dua rakaat. Para ulama ikhtilaf tentang dua rakaat ini, apakah yang dimaksud shalat Isyraq atau Dhuha. Di antara yang berpendapat shalat Isyraq adalah at Thibi. Beliau mengatakan, "Shalat ini dinamakan shalat Isyraq, awal shalat Dhuha." Ada pula yang memasukkan hadits  ini ke dalam pembahasan waktu shalat Dhuha. Sebagaimana ditulis oleh Muhammad bin Umar bin Salim Bazmul dalam kitabnya Bughyatul Mutathawwi' Fi Shalatit Tathawwu'  serta Dr. Sa'id bin Ali bin Wahf al-Qahthani dalam kitabnya Shalatut Tathawwu' .

Jika seorang hamba melakukan ini, insya Allah akan mendapatkan pahala haji dan umrah  dengan sempurna, sempurna, dan sempurna, walaupun dia belum melakukan haji ke Baitullah.

Bagi yang belum berhaji dengan sebab tidak memiliki perbekalan yang cukup, laksanakan perintah Nabi ini. Mudah-mudahan menjadi pelipur lara, pengobat hati bagi yang ingin sekali menuju Makkatul Mukarramah dan Madinatul Munawwarah guna menunaikan serangkaian ibadah di sana, tetapi Allah belum mengizinkannya.





Minggu, 18 November 2012

MAU JADI YANG TERBAIK?


Pernahkah ada orang yang menghitung kekayaan dunia? Berapa nilainya? Oh, sesuatu yang mustahil kedengarannya. Karena kekayaan suatu negara saja belum bisa diperkiraan besarnya, apalagi seluruh dunia. Tetapi percayakah Anda? Ada satu perbuatan atau amalan yang bisa mengalahkan kekayaan dunia beserta isinya?

Ah, masa sih! Hanya dengan satu amalan bisa mengalahkan kekayaan dunia yang begitu banyak. Mustahil!

Mustahil itu kata bagi orang yang belum tahu. Bagi yang sudah tahu atau orang yang mengimani sabda Nabi shallallahu 'alahi wa sallam itu sama sekali tidaklah mustahil.

Apa buktinya kalau begitu? Apa amalan yang dimaksud?

Amalannya sangat sederhana, bahkan tidak memerlukan waktu yang lama dan tenaga yang berlebihan. Ya, cukup dengan beberapa menit saja, dia sudah mampu mengalahkan kekayaan dunia dan dia memperoleh pahala yang besar.

Apa itu?

Perhatikan perkataan di bawah ini:

"Dua rakaat sunnah Fajar (Shubuh) lebih baik dari dunia dan seisinya". (HR. Muslim).

Nah, sekarang Anda percaya-kan? Hanya dengan 2 rakaat, Anda bisa mendapatkan pahala yang lebih baik dari dunia dan seisinya.

Lalu kapan waktu mengerjakannya ya?

Di sebagian masyarakat ada yang meyakini, shalat sunnah ini dilaksanakan sebelum adzan Shubuh. Pendapat ini sangat keliru dan tidak berdalil sama sekali.

Shalat sunnah Fajar (Shubuh) adalah shalat yang ditunaikan setelah adzan Shubuh, bukan sebelum adzan. Sekali lagi bukan sebelum adzan Shubuh.

Shalat sunnah ini adalah shalat yang tidak pernah ditinggalkan nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, baik ketika menetap (muqim) atau sedang diperjalanan (musafir).

Berapa rakaat dan apa yang mesti dibaca?

Sesuai redaksi hadits di atas, jelaslah bahwa shalat sunnah tersebut sebanyak dua rakaat. Surat yang dibaca di setiap rakaat adalah sebagai berikut:
  • Rakaat pertama setelah membaca al Fatihah adalah membaca surat al Kafirun dan rakaat kedua dengan membaca surat al Ikhlas atau
  • Membaca surat al Baqarah ayat 136 di rakaat pertama dan membaca surat Ali Imran ayat 52 atau 64 di rakaat kedua. 
Lalu mana yang terbaik? Semua baik. Bagi seorang muslim boleh memilih di antara keduanya. Dan yang terbaik dalam mengikuti sunnah adalah dengan membacanya secara bergantian.Terkadang hari ini membaca surat yang ini, besok membaca yang itu. 

Bagaimana jika saya mau mengerjakan shalat ini tetapi shalat berjamaah telah dimulai. Mana yang terbaik, shalat sunnah dulu, mengingat begitu pentingnya shalat ini atau shalat Shubuh?

Jawabannya:

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Apabila sudah iqamah tidak boleh mengerjakan shalat lain kecuali shalat fardhu." (HR. Muslim)

Artinya apa? Itu berarti yang wajib lebih utama ketimbang yang sunnah. Jadi shalat Shubuh berjamaah dahulu, baru laksanakan shalat sunnahnya.

Kapan waktunya?

Bisa dengan dua cara:

Pertama, setelah shalat Shubuh

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melihat seorang laki-laki shalat dua rakaat sesudah shalat Shubuh, lalu Nabi bersabda, "Shalat Shubuh hanya dua rakaat". Lelaki itu menukas, "Tadi aku tidak sempat melakukan dua rakaat sebelum shalat Shubuh, maka aku melakukannya sekarang." Rasulullah tidak berkomentar.(HR. Abu Daud dan Ibnu Majah)

Tidak berkomentar artinya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menyetujuinya.

Kedua, setelah matahari terbit.

"Barangsiapa yang belum shalat dua rakaat sunnah Shubuh, hendaknya ia mengerjakannya setelah terbit matahari." (HR. at Tirmidzi, Ibnu Hibban, al Hakim, ad Daruquthni, dan al Baihaqi)

Disebutkan dalam sebuah riwayat, bahwa Nabi pernah tertidur hingga tidak sempat melakukan shalat sunnah Shubuh, maka beliau mengqadhanya setelah matahari terbit. (HR. Ibnu Majah)

Bagaimana jika ada seorang yang tertidur pulas hingga matahari meninggi, apa yang harus dikerjakan, Shubuh atau sunnah Shubuh?

Kerjakan shalat Sunnah Shubuh (Fajar) dahulu, kemudian shalat Shubuh (yang wajib).

Berdasarkan sebuah riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam pernah melakukan perjalanan hingga tertidur pulas. Lalu Nabi shalat sunnah Fajar dahulu, kemudian shalat Shubuh. Itu dilakukan setelah matahari meninggi. (HR. Muslim)

Ayo kita berlomba mengejar keutamaan ini. Berlomba dalam kebaikan (fastabiqul khairat). Jangan tinggalkan shalat sunnah ini hingga ruh berpisah dari badan! Semoga Allah memberikan kemudahan.





Sabtu, 17 November 2012

SIAPA MAU RUMAH YANG SATU INI?


Kalau ditawarkan kepada Anda sebuah rumah yang mewah dengan fasilitas yang lengkap, terletak di kawasan elit, dengan akses yang serba mudah, apa yang Anda katakan? Pasti Anda akan katakan, "Pasti mau dong!".

Bagaimana juga jika Anda di tawarkan sebuah villa indah lagi mahal harganya dengan fasilitas serba lux dengan kenyamanan alam sekitar? Apapun yang kita inginkan terpenuhi. 

Para pembantu siap melayani kapan saja. Sopir siap dipanggil untuk mengantarkan Anda ke mana yang ada suka. Semuanya Anda dapatkan dengan gratis. Bagaimana pendapat Anda? " Wow! Pasti kita ambil dong. Orang mana sih yang tidak mau? "

Tapi nanti dulu. Kira-kira siapa yang menawarkan itu semua? Ada tidak orangnya? Konglomerat mana yang mau menghadiahkan rumah semewah itu? Ah, itu mah cuma khayalan belaka.

Tapi tahukah Anda? Ada sebuah penawaran yang sangat menakjubkan. Melebihi penawaran yang ada di atas. Itu pasti, tidak mengada-ada. Dan sama sekali bukan khayalan!

Bagaimana caranya? Mungkinkah? Oh sangat mungkin itu terjadi dengan syarat Anda melaksanakan amalan ini.

Apa amalannya? Amalannnya seperti yang dikatakan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam:

" Barang siapa melakukan shalat dua belas rakaat sehari semalam, akan dibangunkan baginya  rumah di surga". (HR. Muslim)

"Barang siapa secara konsekuen menjalankan dua belas rakaat shalat sunnah, Allah akan membangunkan  baginya rumah di surga: Empat rakaat sebelum Dzuhur, dua rakaat sesudahnya, dua rakaat setelah Maghrib, dua rakaat setelah Isya, dan dua rakaat sebelum Shubuh". (HR. at Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Inilah caranya mendapatkan rumah di surga. Hitungannya:  4+2+2+2+2 = 12 rakaat.

Subhanallah, penawaran yang menakjubkan sekaligus menggiurkan setiap orang! Hanya dengan menunaikan 12 rakaat sehari semalam bisa mendapatkan rumah di surga. Tidak perlu bayar! Tidak perlu DP (Down Payment) dahulu. Cukup dengan semangat dalam menunaikannya, dan jangan lupa ikhlash karena Allah serta mengikuti contoh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.

Fasilitas apa saja sih yang ada di sana? Jangan ditanya tentang fasilitasnya. Sungguh sangat sempurna dan tidak bisa disamai dengan yang ada di dunia ini.

Allah berfirman:

"Telah Aku persiapkan bagi hamba-hamba-Ku yang shaleh apa yang tidak pernah dilihat mata dan didengar telinga serta terlintas dalam benak manusia". (HR. Bukhari Muslim)

POHON

Jika  rumah seorang konglomerat dunia, hanya dikelilingi pohon rindang biasa, walaupun itu diimport atau harganya yang sangat mahal. Pohon penghuni surga semua batangnya terbuat dari emas.

"Tidak ada pohon pun di surga, kecuali batangnya dari emas ". (HR. at Tirmidzi).

Dan di surga ada satu pohon yang disifati sebagai berikut:

"Sesungguhnya di surga, terdapat satu pohon. Penunggang kuda yang berpengalaman dan jalannya cepat, berjalan di bawah naungannya selama seratus tahun. Namun ia tidak berhasil melewati pohon tersebut". (HR. Bukhari Muslim).

BUAH-BUAHAN


"Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan : "Inilah yang pernah diberikan kepada Kami dahulu." mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalamnya".(QS. al Baqarah: 25)

"Buah-buahannya dekat" (QS. al Haqqah: 23)

"Apabila seseorang memetik buah-buahan di surga, maka setelah itu buah-buahan tersebut kembali ke tempatnya semula". (Diriwayatkan Haitsami). 

SUNGAI

Aku (sahabat Laqith) bertanya, "Wahai Rasulullah, apa saja yang dilihat penghuni surga?" Jawab Rasulullah, "Sungai dari madu yang telah disaring, sungai dari arak yang tidak menimbulkan pusing kepala dan penyesalan, sungai-sungai dari susu yang tidak berubah rasanya, air yang tidak berubah rasa dan baunya, buah-buahan -demi Allah- dari buah-buahan yang telah mereka kenal sebelumnya dan buah-buahan semisalnya yang lebih baik. Adapun raihan, maka ia adalah tanaman yang amat harum aromanya".(Diriwayatkan Abdullah bin Ahmad bin Hambal dalam musnad ayahnya).


PAKAIAN

"Thuba adalah pohon di surga. Ukurannya sepanjang perjalanan seribu tahun. Pakaian penghuni surga diproduksi dari kelopak bunganya."  (Hadits dari sahabat Abu Sa'id al Khudri radiyallahu 'anhu)

Lalu ada apa lagi?

PERMADANI

"Mereka bertelekan di atas permadani yang sebelah dalamnya dari sutra". (QS. ar Rahman: 54)

"Mereka bertelekan pada bantal-bantal yang hijau dan permadani-permadani yang indah". (QS. ar Rahman: 76)

PELAYAN

"Dan berdiri di sekitar mereka anak-anak muda untuk (melayani) mereka, seakan-akan mereka itu mutiara yang tersimpan". (QS. ath Thur: 24)

"Dan mereka dikelilingi oleh pelayan-pelayan muda yang tetap muda. Apabila kamu melihat mereka, maka kamu mengira mereka itu mutiara-mutiara yang bertaburan". (QS. al Insan: 19)


"Sesungguhnya penghuni surga yang paling rendah kelasnya adalah orang yang berdiri di depannya sepuluh ribu pelayan".(HR. Ibnu Abu Dunya)


Masih banyak lagi fasilitas yang ada dan telah disediakan. Itu hanya sebagian kecil yang dikhabarkan Al Qur'an dan Al Hadits. 


Mau rumah di surga dan fasilitas lengkapnya? Ayo kita kerjakan 12 rakaat secara kontinyu. Ingat bukan hanya mengerjakan yang sunnah ini saja, sementara yang wajib ditinggalkan. Jangan pernah! Lakukan yang wajib lalu yang sunnah-sunnah termasuk ibadah agung ini.


Kamis, 15 November 2012

BERKURANG KEMBALI UMUR KITA


Hari berganti hari, bulan berganti bulan, dan tahun berganti dengan tahun. Tak terasa alhamdulillah kita telah berada di bulan Muharram dan tak terasa pula umur kita kian bertambah namun pada hakekatnya terus berkurang.

Lah kok berkurang? Bukankah setiap datangnya tahun umur kita bertambah? Tampaknya seperti itu tetapi sebenarnya tidak. Karena umur manusia semua sudah ditentukan Allah, bahkan sejak dini. Sejak kapan? Sejak ditiupkan ruh kedalam rahim sang ibu.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Sesungguhnya salah seorang dari kalian dikumpulkan penciptaannya di dalam perut ibunya selama 40 hari dalam bentuk nuthfah (cairan). Kemudian menjadi 'alaqah (darah) selama waktu itu (40 hari). Kemudian menjadi mudghah (segumpal daging) selama waktu itu pula. Kemudian diutus kepadanya malaikat dan meniupkan padanya ruh, lalu ditetapkan kepadanya 4 hal: ditulis rizkinya, ajalnya, amalnya, dan celaka atau bahagia." (HR. Bukhari Muslim)

Jadi ketika usia seseorang 120 hari (40 hari x 3) maka ketetapan Allah berlaku bagi seorang hamba yaitu  berupa rizki, ajal (umur), amal, dan celaka atau bahagia (neraka atau surga).

Secara zhahir memang kelihatannya bertambah terus umur kita, tetapi kenyataannya tidak. Justeru semakin berkurang jatah hidup kita setahun.

Datangnya tahun yang baru ini menjadikannya sebagai momen untuk bermuhasabah (introspeksi diri) terhadap apa yang kita lakukan setahun yang lalu. Walaupun yang namanya muhasabah tidak harus setiap tahun, tetapi selaku seorang muslim seharusnya memuhasabah dirinya tiap saat, setiap waktu.

Benarlah apa yang dikatakan Umar Ibnul Khaththab radiyallahu 'anhu yang mengatakan:

"Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab".

Artinya apa? 

Perkataan beliau ini mengisyaratkan kepada kita, bahwa sebagai seorang muslim seharusnya mengintrospeksi dirinya saat hidup di alam dunia yang fana ini. Karena kelak dirinya akan dihisab di Mahkamah Allah di Hari Kiamat.Yang keadaannya jauh lebih berat ketimbang hisab dunia.

Setahun adalah waktu yang cukup panjang. Segala macam perbuatan dilalui dengan berbagai macam amal. Baik amal yang shalih atau sebaliknya. Sejauh mana amal shalih mendominasi dan menghiasi kehidupan kita. Mana yang lebih banyak di antara kedua amalan tersebut, khair (baik) atau Syarr (buruk)? Sementara amalan baik itu akan menghantarkan kita menuju Jannah (surga)-Nya Allah Ta'ala.

"Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, Maka sungguh ia telah beruntung. kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan" (QS. Ali Imran: 185)


Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling baik? Beliau menjawab,"Orang yang panjang umurnya dan baik amal perbuatannya".
(HR. Ahmad, at T irmidzi, ath Thabrani, al Hakim, dan dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih al Jami' no. 3297).

Yang seperti inilah ciri manusia yang beruntung.

Allah subhanahu wa ta'ala mengingatkan kita tentang sebaik-baiknya bekal.


"Berbekallah, dan Sesungguhnya Sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku Hai orang-orang yang berakal". (QS. al Baqarah: 197)

Ingatlah! Kampung kita yang abadi adalah kampung akhirat, karenanya persiapkan diri kita untuk hidup di sana. Dan yang terakhir, momen Muharram ini semestinya mengingatkan kita, untuk terus menuntut ilmu, belajar dan belajar dengan disertai amalan shalih sampai datang kematian.

Firman Allah Ta'ala:


"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS. al Hasyr: 18)



" Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal)." (QS. al Hijr: 99)







                                                               




.

Rabu, 14 November 2012

MUHARRAM itu Syahrullah


Alhamdulillah kita telah kedatangan dengan salah satu bulan dalam Islam yakni bulan Muharram. Muharram adalah bulan yang agung dan salah satu bulan Haram.

Firman Allah Ta'ala:
"Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, Maka janganlah kamu Menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa (QS. at Taubah:36)

Empat bulan yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah Dzulqa'dah, Dzulhijjah, dan Muharram (3 bulan berturut-turut) serta bulan Rajab. Seperti yang dijelaskan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dalam riwayat Bukhari no.2958.

Bulan Muharram dahulu pada jaman jahiliyah disebut dengan Shafar Awwal. Bulan inilah yang pertama kali berubah namanya menjadi bulan Islam, sementara yang lain belum.

Bulan Muharram adalah Syahrullah (Bulan Allah). Kenapa dinamakan Syahrullah? Bukankah seluruh bulan itu Syahrullah?

Pertanyaan ini dijawab oleh al Hafidz Abu Fadhl al Iraqy dengan mengatakan:

"Disebut demikian karena karena di bulan ini diharamkannya pembunuhan. Dia bulan pertama dalam setahun. Disandarkannya bulan ini kepada Allah untuk menunjukkan istimewanya bulan ini. Dan Nabi Muhammad shallaallahu 'alaihi wa sallam tidak pernah menyandarkan bulan lain kecuali bulan Muharram".

Apa yang dilakukan Nabi di bulan ini?

Di antara perilaku Nabi di bulan ini adalah shaum (berpuasa). Mengingat pahala yang besar yang akan didapat seorang hamba jika dia berpuasa di bulan ini.

Nabi bersabda:
أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ
Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada syahrullah (bulan Allah) yaitu Muharram. Sementara shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.” (HR. Muslim no. 2812)


صِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ. رواه مسلم
“Berpuasa pada hari ‘Asyura-’ aku berharap kepada Allah agar menghapuskan (dosa) tahun yang sebelumnya”. (HR. Muslim, no.1976)


Nabi pernah ditanya tentang shaum Asyura'? Beliau menjawab, "Menghapuskan dosa-dosa setahun yang lalu" (HR. Muslim).

"Seandainya umurku sampai pada tahun yang akan datang, maka aku akan shaum (berpuasa) pada hari yang kesembilan" (HR. Muslim).

Berdasarkan hadits-hadits di atas jelas Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melaksanakan shaum/berpuasa di bulan Muharram ini. Dianjurkan berpuasa pada hari kesembilan dan kesepuluh keduanya, karena Nabi berpuasa pada hari kesepuluh dan telah berniat berpuasa pada hari yang kesembilan. Inilah pendapat Imam Syafi'i, Ahmad, Ishaq dan yang lainnya.

Apa hikmah dianjurkannya puasa pada hari kesembilan?

Di antara hikmahnya menurut Imam Nawawi rahimahullah:
  • Menyelisihi orang-orang Yahudi.
  • Menyambung hari Asyura' dengan berpuasa pada hari sebelumnya, seperti pelarangan berpuasa pada hari Jum'at menyendiri, maka digandengkan dengan sebelum atau sesudahnya.
  • Benar-benar menjaga untuk berpuasa pada hari kesepuluh, dikhawatirkan awal bulan terlalu kecil atau terjadi kesalahan dalam penglihatan awal bulan.
  • Menyelisihi ahlul kitab. Inilah pendapat yang terkuat menurut Ibnu Taimiyah.

Bagaimana jika berpuasa hanya pada tanggal 10 saja?  

Syaikhul Islam berkata, "Tidak dimakruhkan mengkhususkan berpuasa pada hari Asyura' mengingat pahalanya dapat menghapus dosa setahun". (al Fatawa al Kubra Juz 5).

"Hari Asyura' tidak mengapa berpuasa pada hari itu saja" (Tuhfatul Muhtaj karya Ibnu Hajar al Haitamy Juz 3 Bab Puasa Sunnah).


Catatan Akhir.

Di dalam bulan Muharram ini tidak ada perayaan atau kegiatan yang dikhususkan. Apalagi dengan mengadakan mabit diiringi dengan acara shalat Tahajud bersama atau kegiatan lain yang menyamai kegiatan akhir tahun Masehi. Juga tidak ada Lebaran Anak Yatim. Karena menyantuni anak yatim bukan hanya di bulan ini saja, tetapi menyantuni mereka pada sebelas bulan lainnya dalam Islam. Karena Nabi dan para sahabat tidak pernah melakukannya. Seandainya itu baik pasti mereka telah mendahului mengerjakannya.

Mari kita laksanakan amaliyah di bulan Haram ini sesuai dengan perintah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Tidak dengan acara-acara yang dilarang oleh agama.

Sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dari 'Aisyah radiyallahu 'anha:

" Barang siapa yang beramal dengan suatu amalan yang tidak kami perintahkan, maka amalannya tertolak". (Hadits shahih)


Jakarta, 1 Muharram 1434H / 14 Nopember 2012M Pkl.21.45 WIB

Selasa, 13 November 2012

TIPS MEMENUHI UNDANGAN YANG ADA MAKSIATNYA


Di penghujung bulan Dzulhijah ini banyak sekali kita temukan baik di kota maupun di desa, janur-janur sebagai tanda sedang ada pelaksanaan walimah. Baik walimatul 'urs maupun khitan.

Biasanya janur-janur tersebut berada di sudut-sudut jalan, di gang-gang masuk kampung atau desa. Atau di depan gedung yang disewakan untuk acara tersebut.

HUKUM MEMENUHI UNDANGAN WALIMAH 


Abu Hurairah radhiallahu anhu berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

                          مُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ خَمْسٌ رَدُّ السَّلَامِ وَعِيَادَةُ الْمَرِيضِ وَاتِّبَاعُ الْجَنَائِزِ وَإِجَابَةُ الدَّعْوَةِ وَتَشْمِيتُ الْعَا

“Hak muslim atas muslim lainnya ada lima: Menjawab salam, menjenguk yang sakit, mengiringi jenazah, memenuhi undangan, dan mendoakan orang yang bersin”. (HR. Al-Bukhari no. 1240 dan Muslim no. 2162)

Dari Abdullah bin Umar radhiallahu anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

                                                                            إِذَا دُعِيَ أَحَدُكُمْ إِلَى الْوَلِيمَةِ فَلْيَأْتِهَا 

“Jika salah seorang dari kalian diundang ke acara walimahan (resepsi pernikahan), maka hendaknya dia datang.” (HR. Al-Bukhari no. 4775 dan Muslim no. 1429)

Dari Jabir radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

                                                        إِذَا دُعِيَ أَحَدُكُمْ إِلَى طَعَامٍ فَلْيُجِبْ فَإِنْ شَاءَ طَعِمَ وَإِنْ شَاءَ تَرَك

“Jika kalian diundang ke acara jamuan makan, maka hendaknya dia mendatanginya. (Setelah dia datang) jika dia mau maka silakan makan, dan jika dia mau maka dia boleh meninggalkannya (tidak makan).” (HR. Muslim no. 1430)


Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata:

                   بِئْسَ الطَّعَامُ طَعَامُ الْوَلِيمَةِ يُدْعَى إِلَيْهِ الْأَغْنِيَاءُ وَيُتْرَكُ الْمَسَاكِينُ فَمَنْ لَمْ يَأْتِ الدَّعْوَةَ فَقَدْ عَصَى اللَّهَ وَرَسُولَهُ

“Seburuk-buruk jamuan adalah jamuan dalam pesta pernikahan, dimana yang diundang ke pesta tersebut hanyalah orang-orang kaya saja dengan mengabaikan orang-orang miskin. Dan siapa yang tidak mendatangi undangan (pernikahan) tersebut, maka sungguh dia telah durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Muslim no. 1432)


Berdasarkan hadits-hadits di atas wajib bagi kita menghadiri undangan walimah. 


Namun bagaimana jika pada acara walimah tersebut ada kemaksiatannya? 

Bolehkahkah kita tidak hadir di sana? 

Dalam acara walimah kerap kali banyak sekali kemaksiatan yang ada di dalamnya. Seperti adanya acara hiburan berupa lagu atau musik. Sementara musik dan lagu itu dilarang dalam agama. Hal ini berdasarkan dalil surat Luqman ayat 6.


"Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan Perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan".


Di dalam ayat tersebut ada kata lahwal hadits (perkataan yang tidak berguna). Kata ini ditafsirkan oleh Ibnu Mas'ud dengan al Ghina (lagu).

Disebutkan dalam sebuah hadits bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tidak menghadiri undangan yang ada maksiatnya. 


Imam Al Auza’i rahimahullah berkata : 
      لَا نَدْخُلُ وَلِيْمَةً فِيْهَا طَبْلٌ وَلَا مِعْزَافٌ     

'Kami tidak mau mendatangi acara walimah yang di situ ada tambur dan mi’zaf (semacam gitar).' (Diriwayatkan oleh Abul Hasan Al Harbi dalam Al Fawaaid Al Muntaqaah 4/3/1 dengan sanad shahih, sebagaimana dalam Aadaabuz Zifaaf oleh Syaikh Al Albani rahimahullah hal. 165-166; Daarus Salaam, Cet. Thn. 1423 H).


Persoalannya, bagaimana kalau yang mengundang orang dekat kita, yang setiap hari berjumpa dengan kita, berbicara, atau hidup bertetangga dengan kita?

Melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya harus didahulukan ketimbang dari undangan manusia. Siapapun yang mengadakan acara-acara tersebut. Tetap jika ada kemaksiatan wajib bagi kita untuk tidak datang. Namun ada solusi bagi orang yang mengalami kejadian tersebut (berdasarkan pengalaman penulis). Agar di satu sisi kita tidak melanggar perintah Allah dan Rasul-Nya, di sisi yang lain hubungan muamalah kita dengan saudara/tetangga kita dapat terjaga dengan baik.

Ikutilah tips berikut:
  • Beritahukan jauh-jauh hari bahwa dia tidak bisa datang di hari H-nya. Berikan alasan-alasan yang logis (ingat jangan berbohong!). 
  • Datanglah pada satu atau dua hari sebelum acara H-nya.
  • Atau datangilah setelah acara berakhir. Satu atau dua hari setelahnya atau pada kesempatan yang lain.
  • Mendatangi acara walimah pada waktu-waktu berikut: menjelang shalat (lebih kurang 15 menit sebelum adzan) seperti sebelum shalat Ashar, Maghrib atau setelah Maghrib. Biasanya di saat-saat itu acara musik berhenti atau dihentikan sementara.

Selamat mencoba semoga Allah selalu memudahkan urusan kita.